Wamenkes Benjamin: Skrining TB Diperluas untuk Putus Rantai Penularan
- 18 Sep 2026 11:44 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Pemerintah terus memperluas skrining tuberkulosis atau TB dengan menyasar kontak erat pasien sebagai bagian dari upaya memutus mata rantai penularan. Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan, langkah tersebut penting karena TB merupakan penyakit menular yang proses perkembangannya berlangsung perlahan sehingga sering tidak disadari masyarakat.
Benjamin menyebut, Indonesia masih menghadapi beban kasus TB yang tinggi dan berada di peringkat kedua dunia. Berdasar data yang disampaikannya, angka kejadian TB di Indonesia mencapai 382 kasus per 100 ribu penduduk dengan perkiraan sekitar 1,08 juta orang.
Pada tahun lalu sekitar 867 ribu orang telah mendapatkan pengobatan. Tahun ini, penemuan dan pengobatan ditargetkan meningkat hingga 90 persen atau mendekati satu juta orang agar semakin banyak sumber penularan dapat ditangani dan pasien memperoleh kesempatan untuk sembuh.
Menurutnya, selama ini penanganan TBC di Indonesia lebih banyak berfokus pada pengobatan pasien yang sudah ditemukan. Padahal, keberadaan pasien TB perlu diikuti pemeriksaan terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat, terutama anggota keluarga yang tinggal serumah.
Benjamin menjelaskan, penularan TBC tidak serta-merta membuat seseorang langsung mengalami gejala penyakit. Masa inkubasi yang berlangsung sekitar 8 hingga 12 minggu membuat seseorang yang tertular dapat baru mengalami sakit beberapa waktu kemudian, sehingga pemeriksaan kontak erat diperlukan meskipun orang tersebut belum menunjukkan gejala.
“Karena ada orang yang sakit, seluruh keluarganya harus diperiksa. Apabila kontak erat belum mengalami TBC aktif, orang tersebut dapat diberikan obat pencegahan TBC, sedangkan pasien yang terbukti sakit segera mendapatkan pengobatan,” ujar Benjamin saat mengunjungi pelaksanaan skrining TB yang digelar Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) di Aula Kantor Camat, Lubuk Begalung, Kota Padang, Jumat 18 September 2026.
Benjamin mengatakan, skrining tersebut tahun ini dilakukan di 53.335 lokasi di Indonesia dengan menggunakan pemeriksaan x-ray portabel agar hasilnya bisa cepat diketahui. Jumlah lokasi tersebut direncanakan meningkat menjadi 100 ribu titik pada tahun berikutnya.
Khusus di Kota Padang, Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Srikurnia Yati mengatakan, seluruh Puskesmas sudah melaksanakan skrining TB. Pelaksanaan skrining telah ditetapkan pada 242 lokasi. Saat ini sudah terlaksana pada 105 lokasi dengan hasil ditemukan 77 kasus positif TB.
“Secara keseluruhan pada 2026, kami mendapat target menemukan 4.800 kasus TB. Sampai saat ini telah ditemukan 2.700 positif TB. Oleh karena itu skrining diperluas supaya warga yang terjangit TB bisa disembuhkan,” ucapnya.
Guna mengoptimalkan skrining TB, Dinas Kesehatan juga telah membentuk kelurahan siaga TB. Tim yang ada pada masing-masing kelurahan bergerak melakukan penelusuran terhadap warga yang tercatat kontak erat dengan pasien TB setahun terakhir.
“Skrining kali ini tidak terpusat di rumah sakit. Bisa kami lakukan di lokasi yang dekat dengan masyarakat, seperti di Puskesmas dan kesehatan. Sebab alat x-ray dan pemeriksaan molekularnya portabel. Alat yang disediakan vendor itu memudahkan, bisa dibawa ke mana saja,” tuturnya.
Skrining TB di wilayah Lubuk Begalung didukung alat x-ray portabel berbasis rontgen genggam menggunakan ProRad Atlas Ultraportable serta pengujian dan konfirmasi molekuler menggunakan Truenat. Alat ini disediakan Molbio beserta distributornya di Indonesia, PT Norma Diagnostika Indonesia.
Senior Regional Business Development Manager Molbio, Roni Chandra, menyebut, TCM Truenat dilengkapi baterai internal sehingga tidak membutuhkan pasokan listrik secara terus-menerus maupun pendingin ruangan (AC). Dengan demikian, alat dapat digunakan di lokasi terpencil yang memiliki keterbatasan fasilitas listrik.
“Hasil pemeriksaannya juga dapat diketahui kurang dari 30 menit. Selain untuk pemeriksaan tuberkulosis, teknologi ini juga dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi sejumlah penyakit infeksi lainnya, seperti HIV, malaria, dan dengue,” ujarnya.
Kedua perangkat tersebut juga dapat dikoneksikan secara otomatis sehingga proses pengiriman atau pemindahan data hasil pemeriksaan dapat dilakukan dengan lebih mudah. Terkait tingkat akurasi, alat tersebut memiliki performa yang baik dengan rekomendasi akurasi di atas 90 persen dan telah diakui WHO.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....