Percepatan Skrining TB di Kota Padang Didukung Rongten Portabel

  • 17 Sep 2026 15:00 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang – Lebih dari 200 warga Kecamatan Pauh, Kota Padang, mengikuti skrining tuberkulosis atau TB yang digelar di Puskesmas Kecamatan Pauh, Kota Padang, Kamis, 17 September 2026. Kegiatan ini merupakan pengabdian Persatuan Dokter Paru Indonesia atau PDPI bersama Dinas Kesehatan Kota Padang, mengingat Kota Padang masih menempati peringkat pertama kasus TB di Sumatera Barat (Sumbar). Tercatat, lebih dari 4.000 kasus TB di Kota ini.

Ketua PDPI Sumbar, Dr. dr. Masrul Basyar, Sp.P (K), mengatakan, kegiatan skrining diselenggarakan sebagai langkah membantu pemerintah menekan kasus TB. Selain itu, juga untuk memutus mata rantai penularannya. “Kami mendukung kegiatan ini sebagai upaya menurunkan kasus TB dengan cara menelusuri orang yang berkontak erat dengan pasien positif TB,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Kepala Puskesmas Pauh, dr. Pratiwi, menjelaskan, peserta skrining berasal dari sembilan kelurahan di Kecamatan Pauh, khususnya warga yang menjadi kontak erat dengan pasien positif TB selama satu tahun terakhir. Kontak tersebut tidak hanya keluarga yang tinggal serumah, tetapi juga tetangga, sepupu, teman bermain, maupun orang lain yang sering berkunjung dan berinteraksi dengan pasien.

“Skrining dilakukan untuk menemukan lebih banyak terduga TB yang selama ini belum mencapai target penemuan kasus. Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung target eliminasi TBC pada 2030 dengan menemukan dan mengobati pasien hingga sembuh,” ujarnya.

Pratiwi menyebut, saat ini jumlah kasus TB yang telah ditemukan di Kecamatan Pauh mencapai 56 pasien dari estimasi 96 kasus pada tahun 2026. Memasuki September, Puskesmas Pauh berharap kegiatan skrining ini dapat membantu menemukan kasus yang belum terdeteksi sehingga penanganan dan pencegahan penularan dapat diperkuat.

Pratiwi menjelaskan, skrining juga diintegrasikan dengan cek kesehatan gratis. Diawali pemeriksaan berat badan, tinggi badan, lingkar perut, dan tekanan darah. Setelah itu, pasien mengikuti rontgen, pemeriksaan sampel darah, dahak, dan tes kulit.

“Hasil positif dari pemeriksaan rontgen atau dahak dapat mengarah pada dugaan TB aktif yang perlu ditindaklanjuti. Sementara hasil positif pada tes kulit belum tentu menunjukkan TB aktif, namun dapat menandakan TB laten,” ucapnya.

Guna menarik minat masyarakat mengikuti kegiatan ini, kata Pratiwi, masyarakat diberi penjelasan bahwa skrining merupakan langkah penting bagi masyarakat. Apalagi disediakan gratis dengan alat yang lengkap. “Bayangkan kalau periksa secara mandiri ke laboratorium membutuhkan biaya yang cukup besar,” tuturnya.

Kegiatan didukung alat X-ray portabel berbasis rontgen genggam menggunakan ProRad Atlas Ultraportable serta pengujian dan konfirmasi molekuler menggunakan Truenat. Alat ini disediakan Molbio beserta distributornya di Indonesia, PT Norma Diagnostika Indonesia.

Senior Regional Business Development Manager Molbio, Roni Chandra, menyebut, rontgen portabel dilengkapi baterai internal sehingga tidak membutuhkan pasokan listrik secara terus-menerus maupun pendingin ruangan (AC). Dengan demikian, alat dapat digunakan di lokasi terpencil yang memiliki keterbatasan fasilitas listrik.

“Hasil pemeriksaannya juga dapat diketahui kurang dari 30 menit. Selain untuk pemeriksaan tuberkulosis, teknologi ini juga dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi sejumlah penyakit infeksi lainnya, seperti HIV, malaria, dan dengue,” ujarnya.

Kedua perangkat tersebut juga dapat dikoneksikan secara otomatis sehingga proses pengiriman atau pemindahan data hasil pemeriksaan dapat dilakukan dengan lebih mudah. Terkait tingkat akurasi, alat tersebut memiliki performa yang baik dengan rekomendasi akurasi di atas 90 persen dan telah diakui WHO.

“Di Kota Padang, perangkat pemeriksaan ini telah tersedia di enam Puskesmas. Pemanfaatan teknologi portable ini diharapkan dapat membantu pemerintah memperluas akses pemeriksaan TB, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan fasilitas kesehatan,” ujarnya.

Sementara itu, Apriani, salah seorang peserta skrining TB dari Kelurahan Binuang Kampung Dalam, mengatakan, mengikuti skrining karena merupakan kontak erat anggota keluarga yang positif TB. Kakak kandungnya dinyatakan positif TB lima bulan lalu.

Apriani mengaku sempat khawatir sebelum menjalani pemeriksaan. Namun, setelah mengetahui hasil pemeriksaannya negatif, ia merasa lega.

“Saya dulu sudah pernah skrining TB di rumah sakit. Hasilnya disampaikan 3 sampai 4 hari. Kalau skrining kali ini hasilnya disampaikan langsung. Alhamdulillah negatif,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....