Guru Besar UNAND: Pemenuhan Gizi sejak Dini Kunci Wujudkan Indonesia Emas 2045

  • 30 Jun 2026 21:31 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang – Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Andalas (UNAND), Prof. Helmizar, menegaskan bahwa investasi pada pemenuhan gizi sejak awal kehidupan menjadi kunci utama dalam menciptakan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045. Menurutnya, upaya tersebut harus dilakukan secara berkelanjutan sejak masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Prof. Helmizar menjelaskan persoalan gizi tidak hanya berkaitan dengan stunting, tetapi juga mencakup triple burden of malnutrition, yakni stunting, kelebihan gizi, dan defisiensi mikronutrien. Ia mengatakan masa 1.000 HPK merupakan periode paling menentukan bagi pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kognitif, hingga produktivitas seseorang di masa depan.

Ia menekankan bahwa pencegahan stunting tidak cukup dilakukan melalui intervensi kesehatan semata. Menurutnya, dibutuhkan pendekatan terpadu yang mengintegrasikan penelitian, inovasi, kebijakan, serta pemberdayaan masyarakat berbasis potensi daerah.

Salah satu hasil riset yang dikembangkan Prof. Helmizar adalah pemanfaatan dadih, pangan fermentasi khas Sumatera Barat, sebagai pangan fungsional. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa suplementasi dadih, terutama yang dikombinasikan dengan zink pada ibu hamil, mampu memperbaiki status gizi ibu, meningkatkan sistem imun ibu dan bayi, serta mendukung pertumbuhan anak.

“Bahkan, hasil pemantauan hingga usia dua tahun memperlihatkan kecenderungan prevalensi stunting yang lebih rendah pada kelompok yang memperoleh intervensi tersebut,” tuturnya, Senin, 29 Juni 2026. Menurutnya, temuan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa pangan lokal berpotensi memberikan kontribusi dalam upaya pencegahan stunting.

Tidak hanya berhenti pada penelitian, Prof. Helmizar juga mengembangkan hilirisasi hasil riset melalui berbagai produk pangan berbasis dadih dan sorgum, seperti tepung dadih, minuman probiotik, roti, puding, hingga makanan pendamping ASI. Menurutnya, inovasi tersebut menjadi jembatan antara hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri sekaligus memperkuat kemandirian pangan berbasis sumber daya lokal.

Selain aspek gizi, Prof. Helmizar juga menyoroti pentingnya pola pengasuhan anak dalam mendukung tumbuh kembang. Ia mengatakan pendekatan “Manjujai”, sebagai kearifan lokal Minangkabau dalam memberikan stimulasi kepada anak, terbukti mampu mendukung perkembangan kognitif, bahasa, dan sosial emosional, sehingga kualitas generasi masa depan ditentukan oleh kombinasi antara kecukupan gizi dan pola pengasuhan yang baik.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....