Ketebalan Kabut Asap di Sumatera Barat dapat Menghalangi Pandangan Meteor Kecil

  • 30 Agt 2026 20:27 WIB
  •  Padang
Poin Utama
  • Perbedaan istilah: Meteoroid (batuan luar angkasa), Meteor (proses terbakar di atmosfer), dan Meteorit (sisa batuan yang jatuh ke bumi).
  • Mitos mengajukan permohonan (make a wish) saat bintang jatuh merupakan pengaruh budaya pop luar negeri, bukan fenomena ilmiah.
  • Ketebalan kabut asap di Sumatera Barat dapat menghalangi pandangan meteor kecil.

RRI.CO.ID, Padang - Ancaman kabut asap yang menyelimuti wilayah Sumatera Barat belakangan ini ternyata menyimpan tanya besar bagi para pecinta fenomena langit. Diskusi hangat dalam program Ruang Komunitas RRI Pro 1 Padang pada Sabtu, 29 Agustus 2026 mengupas habis tuntas persoalan tersebut.

Tito Oktri memandu perbincangan interaktif ini bersama dua pegiat astronomi dari komunitas Astronomi Sumbar secara sangat mendalam. Aldino Adri Baskoro dan Fauzan Adam hadir membagikan sudut pandang edukatif mengenai fenomena hujan meteor yang baru-baru ini terjadi di langit seluruh dunia.

Menurut Fauzan, peluang masyarakat untuk menyaksikan keindahan peristiwa antariksa ini ternyata sangat bergantung pada tingkat ketebalan kabut asap setempat. Ketebalan partikel asap di udara dapat menghalangi pancaran cahaya redup dari meteor-meteor yang berukuran tergolong relatif cukup kecil.

Cahaya terang hanya mampu menembus lapisan kabut tebal jika fenomena yang melintas tergolong ke dalam kategori meteor fireball. Meteor raksasa tersebut akan memancarkan kilatan cahaya yang sangat kuat sehingga masih bisa terlihat samar dari permukaan bumi.

Pengamatan bintang yang ideal sebenarnya membutuhkan syarat mutlak berupa kondisi langit malam tanpa kehadiran pancaran Bulan Purnama. Lokasi pengamatan juga harus benar-benar terbebas dari paparan polusi cahaya perkotaan agar fenomena langit terlihat sangat jelas.

Aldi menyampaikan, secara sains, fenomena meteoroid didefinisikan sebagai batuan antariksa melayang yang kemudian bergesekan langsung dengan lapisan atmosfer bumi. Proses gesekan berkecepatan tinggi tersebut menghasilkan pembakaran intensif yang kita kenal luas sebagai peristiwa kemunculan meteor terang.

Sisa batuan yang berhasil lolos dari pembakaran atmosfer dan jatuh ke permukaan tanah dinamakan oleh para ahli sebagai meteorit. Atmosfer bumi sendiri menjalankan peran vital sebagai perisai alami yang menghancurkan berbagai benda asing berbahaya dari luar angkasa.

Peristiwa hujan meteor Perseid sendiri terjadi ketika lintasan orbit bumi bergesekan dengan sisa debu dan es komet. Gesekan material komet tersebut menciptakan pemandangan indah yang seolah-olah memancar langsung dari arah area rasi bintang Perseus.

Menjawab pertanyaan pendengar, materi batu meteorit didominasi oleh unsur batuan padat serta kandungan logam dan sama sekali bukan emas. Logam langka dari pecahan meteorit tersebut secara historis bahkan pernah dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembuatan keris kuno.

Masyarakat yang tidak sengaja menemukan batuan asing diminta tetap waspada karena adanya potensi bahaya paparan radiasi tertentu. Sementara itu, tradisi berdoa saat melihat bintang jatuh sebenarnya hanyalah pengaruh budaya pop luar dan bukan fakta ilmiah.

Komunitas Astronomi Sumbar merekomendasikan Bukit Nobita di Padang serta kawasan Mandeh sebagai lokasi terbaik untuk aktivitas stargazing. Masyarakat awam juga disarankan menggunakan bantuan aplikasi Stellarium pada ponsel pintar untuk mengenali posisi rasi bintang malam.

Agenda terdekat yang siap digelar adalah International Observe the Moon Night yang dijadwalkan berlangsung serentak pada 19 September 2026. Komunitas ini juga dipastikan hadir memeriahkan kegiatan RRI Fest pada 3 sampai 6 September 2026 serta Festival Perpustakaan Sumbar untuk melakukan pengamatan langit bersama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....