Unand Menyoroti Perubahan Iklim Ubah Cara Petani Bekerja

  • 20 Agt 2026 06:25 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Perubahan iklim saat ini mulai dirasakan langsung petani dan memengaruhi sistem pertanian di berbagai daerah Indonesia. Kondisi tersebut terlihat dari perubahan curah hujan, suhu, kekeringan, banjir, hingga ketersediaan air yang berdampak berbeda di setiap wilayah.

Temuan itu berdasarkan penelitian Towards Climate-Resilient Farming Systems: Evaluating Vulnerability and Adaptation Options for Agriculture in West and East Indonesia yang dipimpin Prof. Dr. Ir. Rudi Febriamansyah dari Universitas Andalas (Unand). Riset Program International Research Network-EQUITY World Class University (WCU) tersebut membandingkan petani padi di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, dan Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Guru Besar bidang Sosial Ekonomi Pertanian Unand, Prof. Rudi Febriamansyah mengatakan penelitian menunjukkan perubahan iklim telah menjadi persoalan nyata bagi sektor pertanian di kedua daerah tersebut Petani di Sumatera Barat lebih banyak merasakan perubahan variabilitas curah hujan, suhu, pola hujan, dan kekurangan air, sedangkan banjir lebih dominan dirasakan petani di Sulawesi Selatan.

“Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian tidak dapat disamaratakan. Setiap daerah memiliki karakteristik, tingkat kerentanan, dan kapasitas adaptasi yang berbeda, sehingga intervensi juga harus berbasis kondisi lokal,” ucapnya, Rabu, 19 Agustus 2026.

Di Sumatera Barat kata Prof. Rudi, sebanyak 96,2 persen responden merasakan perubahan variabilitas curah hujan, 95,7 persen perubahan suhu, 88 persen perubahan pola curah hujan, dan 77 persen mengalami kekurangan air. Sementara di Sulawesi Selatan, sebanyak 58,1 persen petani melaporkan banjir, lebih tinggi dibandingkan Sumatera Barat yang mencapai 27,3 persen.

"Perbedaan kondisi lingkungan juga memengaruhi strategi adaptasi petani di kedua wilayah tersebut. Petani Sumatera Barat lebih banyak menggunakan strategi agronomis seperti diversifikasi tanaman 25,4 persen, rotasi tanaman 23,9 persen, dan penggunaan mulsa 20,6 persen, sedangkan petani Sulawesi Selatan lebih banyak memilih varietas tahan iklim 37,6 persen, varietas berumur pendek 27,1 persen, diversifikasi tanaman 26,7 persen, serta agroforestri 26,2 persen," ujarnya.

Prof. Rudi menambahkan, ketahanan pangan ke depan sangat bergantung pada kemampuan kita membantu petani beradaptasi. Karena itu, hasil riset harus diterjemahkan menjadi kebijakan dan langkah nyata yang memperkuat ketahanan petani menghadapi perubahan iklim.

"Penelitian menggunakan metode mixed-method melalui survei rumah tangga, wawancara informan kunci, dan observasi lapangan untuk membandingkan kerentanan petani pada dua kondisi agroklimat. Hasil riset tersebut diharapkan menjadi dasar penguatan penyuluhan, pengelolaan air, dan penerapan climate-smart agriculture sekaligus mendukung pencapaian SDG 2 Tanpa Kelaparan dan SDG 13 Penanganan Perubahan Iklim," tuturnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....