Harusnya Horor, ketika Hantu Wibu yang Takut Manusia Justru Jadi Senjata Konten

  • 31 Jul 2026 22:46 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Bagaimana jika seorang hantu justru lebih takut kepada manusia daripada manusia takut kepadanya? Premis tak biasa tersebut menjadi daya tarik utama Harusnya Horor, film komedi horor yang menandai debut Reza Arap sebagai sutradara layar lebar. Diproduksi Ess Jay Pictures, film ini mempertemukan dunia horor dengan kehidupan para kreator konten yang mengejar popularitas. Film tersebut dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026.

Cerita berpusat pada sesosok hantu yang memiliki karakter jauh dari gambaran makhluk gaib pada umumnya. Ia digambarkan sebagai hantu wibu yang minder dan justru takut kepada manusia. Setelah meninggal sebelum sempat menyelesaikan anime favoritnya, ia mendapatkan tugas dari alam baka untuk menakuti 100 ribu manusia. Masalahnya, menjadi hantu ternyata tidak otomatis membuat seseorang pandai menakut-nakuti. Ketidakmampuan tersebut justru menjadi sumber kekacauan sekaligus komedi dalam film.

Di saat yang sama, sekelompok kreator konten sedang menghadapi masalah mereka sendiri. Mereka membutuhkan materi yang mampu mengangkat kembali popularitas sekaligus membantu kondisi keuangan yang sedang terpuruk. Pertemuan dengan hantu tersebut akhirnya menghasilkan kerja sama yang tidak masuk akal: sang hantu menjadi “talent” untuk konten horor mereka. Dari sinilah batas antara dunia manusia dan dunia gaib menjadi semakin kacau, karena makhluk yang seharusnya menjadi sumber ketakutan justru bekerja sama dengan manusia demi mencapai tujuan masing-masing.

Konsep tersebut membuat Harusnya Horor memiliki pendekatan berbeda dari formula horor Indonesia yang biasanya menempatkan manusia sebagai korban dan hantu sebagai ancaman. Film ini justru membalik posisi keduanya. Hantu membutuhkan manusia untuk menyelesaikan misinya, sementara manusia membutuhkan hantu untuk membuat konten mereka menarik. Hubungan yang awalnya dibangun karena kepentingan tersebut perlahan berkembang menjadi sesuatu yang lebih personal, terutama ketika mereka mulai melihat satu sama lain bukan sekadar sebagai “alat” untuk mencapai tujuan.

Daya tarik lainnya datang dari kolaborasi Reza Arap dengan AAA Clan dan Geng Marapthon. Film ini menjadi pengalaman layar lebar pertama bagi sembilan anggota Geng Marapthon, sementara Reza sendiri menjalankan peran ganda sebagai sutradara sekaligus pemeran utama. Keputusan produser mempercayakan kursi penyutradaraan kepada Reza berawal dari ketertarikan terhadap konsep dan kreativitas Marapthon yang sebelumnya ia kembangkan di dunia live streaming. Dengan demikian, film ini menjadi pertemuan antara kultur kreator digital dan industri film layar lebar.

Namun di balik komedi dan kekonyolan para karakternya, Harusnya Horor juga menyimpan cerita tentang kehilangan dan arti keluarga. Film ini menjadi semakin emosional karena turut menampilkan Lula Lahfah, yang menjadikan proyek tersebut sebagai karya layar lebar terakhirnya. Reza Arap dan keluarga Lula telah menyepakati film ini sebagai persembahan terakhir sang aktris tanpa menjadikan kepergiannya sebagai sekadar bahan eksploitasi emosional. Mulai 20 Agustus 2026, penonton akan diajak melihat bagaimana hantu yang takut manusia dan sekelompok kreator yang mengejar viralitas justru menemukan hubungan yang lebih berarti dari sekadar sebuah konten—bahwa terkadang keluarga bisa ditemukan di tempat yang sama sekali tidak kita duga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....