Menjemur Harapan di Bawah Langit Buo, Terik Matahari Menjadi Nafas Nelayan

  • 30 Apr 2026 17:08 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Di pesisir Teluk Buo, Kecamatan Bungus Teluk Kabung matahari bukan sekadar benda langit yang membakar kulit. Bagi warga di ujung Kota Padang ini, terik adalah berkah. Ia adalah mesin alami yang mengubah ikan-ikan segar dari pukat nelayan menjadi kepingan emas perak yang menjamin dapur tetap mengepul.

Sepanjang garis pantai, berhamparan tikar-tikar pandan. Di atasnya, ribuan ikan teri, baledang, hingga ikan karang tersusun simetris, pasrah dipeluk panas. Di sela-sela jemuran itu, tangan-tangan legam para perempuan pesisir dengan sigap membolak-balik ikan, memastikan setiap tetes air laut menguap sempurna.

Bagi mereka, ikan kering adalah harga diri. Sebuah produk yang lahir dari kesabaran melawan cuaca dan ketangguhan menjaga tradisi.

"Kalau hari panas begini, kami gadang hati (senang). Ikan cepat kering, kualitasnya bagus dan putih bersih. Tapi kalau hujan turun tiba-tiba, itulah ujian buat kami. Ibu-ibu berlarian menyelamatkan jemuran karena di dalam ikan-ikan inilah biaya sekolah anak dan beras kami gantungkan," ungkap Fatma, salah seorang pengolah ikan kering setempat, sembari menyeka peluh di dahinya.

Ekonomi warga di Teluk Buo bergerak dalam siklus yang jujur. Saat nelayan pulang membawa beban pukat yang penuh, para ibu di darat telah bersiap dengan garam dan tempat penjemuran. Sinergi ini menjadi jaring pengaman ekonomi yang membuat warga tetap tegak berdiri meski harga kebutuhan pokok sering kali tidak bersahabat.

Ikan kering dari teluk ini telah melanglang buana, menembus pasar-pasar di Bukittinggi hingga Solok, membawa aroma khas laut Bungus ke meja-meja makan di dataran tinggi. Namun, di balik gurihnya ikan yang tersaji, ada narasi tentang peluh yang mengering bersama garam.

"Kami tidak minta banyak, hanya berharap laut tetap murah hati dan matahari memberikan teriknya. Biar ikan-ikan ini tetap kering dan harapan kami tidak ikut basah karena keadaan," tambah Buyung (55), nelayan yang sudah puluhan tahun beraktifitas di Teluk Buo.

Di Teluk Buo, hidup memang terasa asin seperti air laut, namun kegigihan warganya mengolah potensi alam memberikan rasa manis yang dalam bagi keberlangsungan ekonomi keluarga. Di bawah langit Bungus, mereka adalah penjaga kedaulatan pangan yang bekerja dalam sunyi, di antara aroma amis laut dan terik matahari yang menyengat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....