Program Nagari Creative Hub Mulai Tunjukkan Dampak bagi Masyarakat
- 30 Jul 2026 14:15 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Program unggulan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar), Nagari Creative Hub (NCH), mulai menunjukkan dampak dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan kreativitas masyarakat di tingkat nagari. Salah satu daerah percontohan yakni Nagari Pangian, Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar. Di nagari ini, NCH berkembang tidak hanya sebagai wadah pengembangan generasi muda, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan UMKM, pelestarian seni budaya, serta pengembangan pemasaran produk lokal berbasis digital.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) NCH Nagari Pangian, Zilnovita Zainal menjelaskan, terdapat lima fasilitas utama untuk mendukung operasional NCH. Masing-masing Teras Nagari sebagai pusat informasi potensi daerah, Lapau Nagari sebagai sarana pemasaran digital UMKM, Medan Nan Balindung sebagai ruang pelatihan dan diskusi masyarakat, Medan Nan Bapaneh sebagai pusat aktivitas seni budaya, serta layanan internet gratis.
“Seluruh fasilitas tersebut telah dimanfaatkan masyarakat sejak NCH diluncurkan. Masyarakat juga memberikan respons yang sangat positif,” ujarnya di Pangian, Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, Rabu, 29 Juli 2026.
Perempuan yang karib disapa Elok Piko ini membeberkan, pada Lapau Nagari, enam produk unggulan UMKM Nagari Pangian dipasarkan secara rutin melalui akun @nch.pangian di TikTok Shop. Promosi produk juga memanfaatkan fitur live setiap pukul 19.00 hingga 21.00 WIB.
“Produknya beragam, seperti aneka sambalado, randang belut, minuman kesehatan serai-lemon-jahe, keripik pisang. Ada pula berbagai kerajinan tangan, seperti deta khas masyarakat setempat,” tuturnya.
Menurut Piko, potensi UMKM Nagari Pangian sebenarnya jauh lebih besar, namun sebagian besar produk kuliner memiliki daya tahan terbatas sehingga belum siap dipasarkan secara lebih luas melalui platform digital. “Kendala terbesar adalah bagaimana makanan bisa bertahan lebih lama. Produk seperti sambal dan kuliner khas lainnya masih membutuhkan teknologi pengawetan yang baik agar bisa dipasarkan lebih luas,” katanya.
Ia menjelaskan, berbeda dengan randang belut yang mampu bertahan hingga sekitar dua bulan, sebagian besar produk kuliner lainnya masih membutuhkan inovasi pada teknologi pengemasan dan pengawetan. Karena itu, pendampingan kepada pelaku UMKM kini tidak hanya difokuskan pada peningkatan kualitas produksi, tetapi juga diarahkan pada penerapan teknologi pangan agar produk memiliki daya simpan lebih panjang.
Piko mengakui, nilai transaksi produk lokal melalui platform digital belum terlalu besar. Akan tetapi, kegiatan ini dinilai menjadi langkah awal untuk membiasakan pelaku UMKM memasarkan produknya secara digital dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Selain menjadi pusat pengembangan ekonomi, NCH Pangian juga berkembang sebagai ruang aktivitas sosial dan pelestarian budaya melalui latihan silek tradisi, tari, sanggar senam, serta berbagai pelatihan pemberdayaan masyarakat yang dipusatkan di kawasan Medan Nan Bapaneh. “Setiap Sabtu malam, anak dan remaja rutin berlatih Silek Pangian sebagai upaya untuk pelestarian karena silek ini hampir punah,” ucapnya.
Sementara itu, Medan Nan Balinduang dimanfaatkan sebagai ruang belajar persembahan adat yang dilaksanakan secara berkala guna menjaga tradisi dan nilai budaya Minangkabau tetap lestari. “Pelatihan adat dan budaya di sini dilaksanakan dua kali seminggu selama satu tahun,” ujarnya.
NCH merupakan program unggulan Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi bersama Wakil Gubernur Vasko Ruseimy. Terdapat tiga lokasi percontohan, yakni Nagari Pangian di Kabupaten Tanah Datar, Nagari Sikalang di Kota Sawahlunto, dan Nagari Toboh Gadang Barat di Kabupaten Padang Pariaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....