Mengenal Kualitas Udara di tengah Kabut Asap Sumatera
- 12 Sep 2026 15:20 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang - Beberapa hari terakhir, istilah kualitas udara mungkin lebih sering terdengar di tengah masyarakat. Kondisi tersebut tidak terlepas dari kabut asap yang membuat udara Kota Padang terlihat berbeda dari biasanya.
Pemandangan pantai maupun perbukitan yang biasanya mudah terlihat kini dapat tertutup kabut asap. Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin menyadari pentingnya kualitas udara yang dihirup setiap hari.
Bukan hanya mengurangi jarak pandang, kualitas udara yang tercemar juga dapat berdampak terhadap kesehatan. Gangguan yang muncul bisa berupa iritasi mata, hidung, tenggorokan, hingga masalah pernapasan.
| Baca juga: Menjaga Baju Putih Tetap Cemerlang |
BMKG menjelaskan, kualitas udara merupakan ukuran kebersihan udara dari polutan. Polutan merupakan zat berukuran kecil yang dapat membahayakan kesehatan ketika terhirup.
Secara umum, kualitas udara dipengaruhi dua kelompok utama, yakni pencemaran udara dan gas rumah kaca. Pencemaran udara dapat berasal dari asap kendaraan, emisi industri, pembakaran sampah, hingga kebakaran hutan.
Kondisi kabut asap di Sumatera Barat juga berkaitan dengan sebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan. BMKG mendeteksi sebaran asap di Sumatera Barat, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan pada September 2026.
Membahas pencemaran udara, masyarakat akan mengenal istilah partikulat seperti SPM, PM10, dan PM2.5. Partikulat merupakan partikel sangat kecil yang berasal dari asap kendaraan, industri, pembakaran sampah, hingga kebakaran hutan.
PM10 merupakan partikel yang dapat mengiritasi hidung dan tenggorokan ketika terhirup. Sementara PM2.5 berukuran lebih kecil dan dapat masuk hingga ke dalam paru-paru bahkan aliran darah.
Selain partikulat, terdapat pula polutan lain seperti sulfur dioksida, nitrogen oksida, ozon, dan karbon monoksida. Masing-masing memiliki sumber dan dampak berbeda terhadap kesehatan maupun lingkungan.
Paparan polusi udara dapat menyebabkan gangguan pernapasan seperti asma, bronkitis, dan infeksi saluran napas. Polusi juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke serta menimbulkan iritasi.
Anak-anak juga menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian ketika kualitas udara memburuk. Paru-paru anak lebih rentan terhadap paparan polutan berbahaya.
Karena itu, masyarakat perlu mengetahui kondisi udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Salah satu caranya dengan memantau Indeks Standar Pencemar Udara atau ISPU.
Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat dapat menggunakan masker N95 atau KF94 untuk membantu menyaring partikel halus. Aktivitas olahraga di luar ruangan juga sebaiknya dikurangi ketika tingkat polusi sedang tinggi.
Menjaga kualitas udara bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga terkait. Kebiasaan sederhana seperti tidak membakar sampah dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi juga dapat membantu mengurangi pencemaran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....