Ketahanan Pangan Keluarga ala Minangkabau, Mandiri dan Berkelanjutan

  • 03 Feb 2026 08:29 WIB
  •  Padang

RRI.CO.ID, Padang - Ketahanan pangan keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam menopang keberlangsungan hidup keluarga sekaligus menjadi fondasi ketahanan bangsa. Hal tersebut disampaikan oleh Wirdanengsih, M.Si, Kepala Pusat Riset Kearifan Lokal Sumatera Barat Universitas Negeri Padang (UNP), saat menjadi narasumber dalam Program Jendela Keluarga dengan tema Pola Ketahanan Pangan dalam Keluarga.

Menurut Wirdanengsih, ketahanan pangan keluarga tidak sekadar berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga menyangkut perilaku dan nilai-nilai kehidupan yang dianut dalam keluarga. “Perilaku membangun ketahanan pangan itu berangkat dari nilai-nilai, baik nilai agama maupun nilai luhur budaya bangsa,” ujarnya.

Ia mencontohkan filosofi hidup masyarakat Minangkabau yang tercermin dalam konsep rangkiang di rumah gadang. Dalam tradisi Minangkabau, rangkiang bukan sekadar lumbung padi, melainkan simbol prinsip hidup keluarga.

Prinsip pertama adalah kemandirian dalam memenuhi kebutuhan hidup, yakni berusaha memenuhi pangan tanpa ketergantungan tinggi pada pihak luar. Dulu, keluarga di Minangkabau memiliki sawah, menanam sayuran di sekitar rumah, beternak ayam, bahkan memiliki kolam ikan. Semua kebutuhan pokok diusahakan tersedia di lingkungan sendiri, jelasnya.

Dengan cara tersebut, pangan menjadi lebih sehat, murah, dan mudah diakses karena diolah langsung oleh keluarga. Prinsip kedua dalam filosofi rangkiang adalah kebiasaan menabung atau menyimpan cadangan pangan.

Hal ini penting sebagai antisipasi ketika terjadi masa sulit, seperti gagal panen atau musibah. “Tidak semua hasil itu langsung dihabiskan. Ada cadangan yang disimpan untuk menghadapi kondisi darurat,”  kata Wirdanengsih.

Sementara itu, prinsip ketiga adalah kepedulian sosial atau semangat berbagi. Dalam konteks agama dan budaya, sedekah dan berbagi kepada sesama diyakini membawa keberkahan serta memperkuat ikatan sosial.  “Ketika kita susah ada yang menolong, dan ketika orang lain susah kita hadir membantu,” ujarnya.

Lebih lanjut, Wirdanengsih menekankan pentingnya menanamkan pola ketahanan pangan ini sejak dini kepada anak-anak. Anak perlu dibiasakan mengolah makanan sendiri dan memahami proses pemenuhan kebutuhan dasar. “Jika sejak kecil terbiasa semuanya instan dan membeli, anak akan kehilangan kemandirian dalam memenuhi kebutuhan hidupnya,” ujar Wirdanengsih.

Menjawab tantangan kondisi saat ini, seperti keterbatasan lahan dan waktu, ia menilai prinsip ketahanan pangan tetap bisa diterapkan dengan berbagai adaptasi. Mulai dari hidroponik, memanfaatkan sisa sayuran untuk ditanam kembali, membuat kompos dari limbah dapur, hingga beternak ikan lele menggunakan ember atau galon bekas.

“Intinya bukan pada besar atau kecilnya lahan, tetapi pada prinsip hidupnya. Bagaimana kita meminimalkan ketergantungan pada dunia luar, membiasakan menabung, dan tetap peduli pada sesama,” ujar Wirdanengsih. Menurutnya, selama ada usaha dan kesadaran, ketahanan pangan keluarga tetap dapat terwujud meski di tengah keterbatasan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....