Pemkab Agam dan Unand Perkuat Kerja Sama Kebencanaan
- 30 Sep 2026 03:20 WIB
- Padang
RRI.CO.ID, Padang – Bupati Agam, Benni Warlis menandatangani nota kesepakatan dengan Universitas Andalas (Unand) Padang terkait kerja sama penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi serta pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penandatanganan berlangsung dalam rangkaian The 5th International Conference on Disaster Management (ICDM) 2026 di Convention Hall Universitas Andalas, Selasa, 29 September 2026.
Kegiatan ICDM 2026 mengangkat tema Integrating Technology and Local Wisdom for Sustainable Disaster Management. Dalam kesempatan yang sama, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat juga menandatangani kesepakatan bersama dengan Unand terkait pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dalam mendukung pembangunan daerah.
Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Barat, Yozawardi mengatakan, kerja sama dengan perguruan tinggi penting untuk memastikan ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Menurutnya, penanggulangan bencana membutuhkan kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat dan media.
"Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti sebagai sebuah dokumen formal saja," katanya. Menurutnya, kesepakatan tersebut harus menjadi pintu masuk bagi kerja sama konkret melalui riset bersama, pengembangan teknologi, penguatan data kebencanaan, pendidikan dan pelatihan, pengembangan inovasi, serta penyusunan rekomendasi kebijakan berbasis ilmu pengetahuan.
Yozawardi menilai, pengalaman gempa bumi Sumatera Barat pada 30 September 2009 menjadi pembelajaran penting dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana. Pembelajaran tersebut dinilai perlu diterapkan melalui penguatan kolaborasi dan inovasi dalam pengelolaan risiko bencana.
Sementara itu, Rektor Universitas Andalas, Eva Yonnedi mengatakan, ICDM 2026 tidak hanya menjadi forum akademik untuk bertukar pengalaman, tetapi juga momentum mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa kebencanaan yang pernah terjadi di Sumatera Barat. Menurutnya, teknologi memiliki peran penting dalam pengelolaan risiko bencana, mulai dari sistem peringatan dini, pemetaan risiko berbasis data, penginderaan jauh, pemodelan kebencanaan hingga teknologi komunikasi.
Namun, Eva menilai teknologi tidak cukup berdiri sendiri dalam pengelolaan bencana. Pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat yang telah hidup berdampingan dengan risiko bencana selama puluhan bahkan ratusan tahun juga perlu menjadi bagian dari pengelolaan bencana.
"Teknologi dapat memberi kita informasi mengenai kapan dan di mana risiko muncul. Namun, local wisdom membantu kita memahami bagaimana masyarakat merespons, beradaptasi dan membangun resiliensi," ujarnya.
ICDM 2026 berlangsung 29-30 September 2026 dan membahas berbagai isu kebencanaan secara multidisiplin. Pembahasan mencakup analisis risiko, tata ruang, sistem peringatan dini, kesehatan dan kesiapsiagaan, perubahan iklim, infrastruktur, serta mitigasi gempa dan tsunami.
Konferensi yang digelar Unand tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai perguruan tinggi luar negeri, BNPB, BMKG dan Universitas Pertahanan. Salah satunya Syamsul Ma'arif yang merupakan Kepala BNPB pertama.
Penyelenggaraan ICDM 2026 juga menjadi bagian dari momentum 70 tahun Universitas Andalas. Eva menegaskan, kontribusi perguruan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah publikasi dan penelitian, tetapi juga dari dampak pengetahuan yang dihasilkan bagi masyarakat. Ia berharap konferensi tersebut melahirkan gagasan baru, memperkuat jejaring penelitian dan kolaborasi, serta menghasilkan rekomendasi yang dapat diterjemahkan menjadi kebijakan maupun inovasi dalam pengelolaan bencana.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....