Jejak Sumitro Djojohadikusumo, Ekonom di Balik Pembangunan Ekonomi Indonesia
- 04 Agt 2026 18:48 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Sumitro berperan dalam pembangunan ekonomi, industrialisasi, pendidikan, serta pembentukan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
- Pemikirannya menekankan keterlibatan negara dalam produksi, investasi, pangan, manufaktur, dan penyelesaian ketimpangan struktural.
- Perjalanannya diwarnai kontroversi PRRI, dukungan intelijen Amerika Serikat, pengasingan, Mafia Berkeley, dan kritik terhadap Orde Baru.
Hubungan dengan Amerika Serikat kemudian bersinggungan dengan pergolakan politik di dalam negeri. Pada 1957, Sumitro bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan Permesta.
Gerakan tersebut berkembang di Padang, Sumatera Barat, serta Minahasa, Sulawesi Utara. Para tokohnya kecewa terhadap pemerintah pusat dan menolak cara Sukarno mengendalikan negara.
PRRI memperoleh dukungan persenjataan dari Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat. Kepiawaian Sumitro di bidang ekonomi turut membantu kelompok tersebut menarik dukungan asing.
Kontroversi itu kemudian melahirkan tudingan bahwa Sumitro menjadi agen intelijen Amerika Serikat. Namun, catatan sejarah lebih jelas menunjukkan dukungan badan tersebut mengarah kepada gerakan PRRI.
Keputusan Sumitro bergabung membuat kursi Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ditinggalkannya. Posisi tersebut selanjutnya diisi Djokosutono, yang sebelumnya memimpin Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Djokosutono meminta Subroto dan Mohammad Sadli menangani kegiatan operasional fakultas. Keduanya juga menjaga kerja sama Ford Foundation di tengah tekanan pemerintah dan kelompok kiri.
Sepanjang 1956 hingga 1962, Universitas Indonesia mengirimkan 45 lulusan melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Banyak di antara mereka kemudian menjadi ekonom penting dalam pemerintahan Indonesia.
Tentara Nasional Indonesia di bawah komando A.H. Nasution akhirnya menumpas PRRI dan Permesta pada 1961. Ventje Sumual di Minahasa serta Ahmad Husein di Padang kemudian menyerahkan diri.
Sementara itu, keterlibatan Sumitro membuatnya diberhentikan dari Partai Sosialis Indonesia. Partai tersebut selanjutnya dibubarkan oleh pemerintahan Sukarno.
Sumitro lalu berpindah dari satu negara ke negara lainnya sebagai pelarian politik. Selama pengasingan, ia mempertahankan hidup dengan bekerja sebagai konsultan ekonomi.
Pergantian kekuasaan kepada Soeharto akhirnya membuka jalan kepulangannya menuju Indonesia. Sumitro kemudian diminta kembali menangani urusan perdagangan dalam pemerintahan baru.
Ia menjadi penasihat ekonomi presiden dan Menteri Perdagangan selama 1968 hingga 1973. Setelah itu, Sumitro dipercaya menjabat Menteri Negara Riset pada 1973 hingga 1978.
|
Selanjutnya,
Warisan Perjuangan Sumitro
|
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....