Jejak Sumitro Djojohadikusumo, Ekonom di Balik Pembangunan Ekonomi Indonesia

  • 04 Agt 2026 18:48 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sumitro berperan dalam pembangunan ekonomi, industrialisasi, pendidikan, serta pembentukan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
  • Pemikirannya menekankan keterlibatan negara dalam produksi, investasi, pangan, manufaktur, dan penyelesaian ketimpangan struktural.
  • Perjalanannya diwarnai kontroversi PRRI, dukungan intelijen Amerika Serikat, pengasingan, Mafia Berkeley, dan kritik terhadap Orde Baru.

Setelah melewati perjalanan panjang, kesehatan Sumitro mulai menurun akibat penyakit jantung dan penyempitan pembuluh darah. Keadaan tersebut akhirnya menutup kiprah salah satu ekonom paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.

Sumitro meninggal dunia di Rumah Sakit Dharma Nugraha, Rawamangun, Jakarta Timur, Jumat, 9 Maret 2001. Ia mengembuskan napas terakhir menjelang usia 84 tahun setelah lama menderita penyakit jantung.

Jenazahnya kemudian dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta Pusat. Kepergiannya meninggalkan istri, empat anak, serta warisan pemikiran yang terus dibicarakan lintas generasi.

Sepanjang 1942–1994, Sumitro menghasilkan sekitar 130 buku dan makalah, terutama mengenai persoalan ekonomi. Karya terakhirnya, Jejak Perlawanan Begawan Pejuang, diterbitkan Pustaka Sinar Harapan pada April 2000.

Warisan tersebut tidak hanya tersimpan dalam tulisan, tetapi juga hidup melalui kebijakan dan lembaga pendidikan. Fakultas Ekonomi UI serta jejaring ekonom nasional menjadi bagian penting dari perjalanan panjang tersebut.

Karena itu, peluncuran buku “Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan” memiliki makna lebih dari peringatan sejarah. Kegiatan tersebut mengajak publik menilai kembali gagasannya menghadapi tantangan pembangunan ekonomi masa kini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....