Jejak Sumitro Djojohadikusumo, Ekonom di Balik Pembangunan Ekonomi Indonesia

  • 04 Agt 2026 18:48 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sumitro berperan dalam pembangunan ekonomi, industrialisasi, pendidikan, serta pembentukan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
  • Pemikirannya menekankan keterlibatan negara dalam produksi, investasi, pangan, manufaktur, dan penyelesaian ketimpangan struktural.
  • Perjalanannya diwarnai kontroversi PRRI, dukungan intelijen Amerika Serikat, pengasingan, Mafia Berkeley, dan kritik terhadap Orde Baru.

Perdebatan kebijakan tidak menghentikan perhatian Sumitro terhadap pembangunan pendidikan ekonomi. Sepulang dari Belanda, ia diminta Suhadi Mangkusuwondo memimpin Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Sumitro dianggap sebagai sosok paling memenuhi kualifikasi untuk membangun fakultas tersebut. Namun, tugasnya berat karena banyak akademisi Belanda meninggalkan Indonesia setelah ketegangan mengenai Papua.

Ia harus mengisi kekurangan pengajar, menyusun kurikulum, mencari gedung, dan membangun lembaga pendukung. Dalam bayangannya, fakultas tersebut perlu berkembang seperti London School of Economics.

Sumitro pernah mengikuti sejumlah kursus singkat di perguruan tinggi Inggris tersebut. Ia kemudian mendorong kurikulum ekonomi pembangunan yang lebih dekat dengan persoalan Indonesia.

Langkah itu menghadapi kendala pendanaan dari pemerintah maupun British Council. Ketika kebuntuan muncul, Ford Foundation kemudian menjadi pilihan untuk mendukung pengembangan fakultas.

Pada Mei 1956, Universitas California, Berkeley menandatangani kerja sama dengan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Kesepakatan itu membuka jalan bagi penguatan pendidikan ekonomi melalui jejaring internasional.

Ford Foundation kemudian menyediakan dua juta dolar Amerika Serikat untuk mendukung program tersebut. Nilainya disebut sekitar Rp32,5 miliar berdasarkan perhitungan sumber pada 2025.

Dana tersebut digunakan menghadirkan pengajar, memperkuat institusi, dan memberikan beasiswa kepada mahasiswa Indonesia. Dukungan itu kemudian melahirkan jaringan ekonom yang berpengaruh dalam pemerintahan.

Sumitro juga mendirikan Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat berdampingan dengan fakultas. Lembaga itu menjadi laboratorium bagi ekonom muda untuk mengembangkan dan menyempurnakan kebijakan.

Hubungan Sumitro dengan Amerika Serikat sebenarnya telah berkembang sejak dekade 1940-an. Saat menjadi pejabat, ia beberapa kali bertemu pebisnis dan perwakilan pemerintah Amerika Serikat.

Indonesia membutuhkan dukungan sebelum dan sesudah Agresi Militer Belanda II. Pada saat bersamaan, Amerika Serikat mencari mitra strategis untuk membendung pengaruh komunisme di Asia.

Sepanjang 1950 hingga 1965, bantuan asing mengalir kepada berbagai institusi Indonesia. Sumbernya didominasi Amerika Serikat, Ford Foundation, dan lembaga terkait Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dana tersebut mendukung pemerintahan, kemitraan universitas, pengiriman ahli, dan pendidikan mahasiswa. Negara-negara Blok Timur juga memberi bantuan, meskipun jumlahnya lebih kecil.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....