Jejak Sumitro Djojohadikusumo, Ekonom di Balik Pembangunan Ekonomi Indonesia

  • 04 Agt 2026 18:48 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sumitro berperan dalam pembangunan ekonomi, industrialisasi, pendidikan, serta pembentukan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
  • Pemikirannya menekankan keterlibatan negara dalam produksi, investasi, pangan, manufaktur, dan penyelesaian ketimpangan struktural.
  • Perjalanannya diwarnai kontroversi PRRI, dukungan intelijen Amerika Serikat, pengasingan, Mafia Berkeley, dan kritik terhadap Orde Baru.

Pengalaman dalam pemerintahan kemudian membuka ruang bagi Sumitro menjalankan gagasan ekonominya. Pada April 1951, ia mencetuskan Program Urgensi Perekonomian atau Rencana Sumitro.

Kebijakan tersebut diarahkan mengubah industri rakyat menjadi kegiatan usaha modern berskala lebih besar. Pemerintah dirancang memberikan modal kepada pengolah kulit, pelebur tembaga, dan pelaku produktif lainnya.

Bantuan tersebut diharapkan meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat posisi pengusaha kecil. Dalam jangka panjang, Sumitro ingin mendorong peralihan ekonomi pedesaan menuju sektor nonpertanian.

Peralihan itu menjadi bagian dari diversifikasi produksi dan pembangunan industri nasional. Namun, Rencana Sumitro tidak berlanjut karena administrasi publik saat itu dinilai masih lemah.

Walaupun pelaksanaannya tersendat, gagasan tersebut meninggalkan pengaruh besar bagi kebijakan berikutnya. Emil Salim bahkan menyebut Sumitro sebagai tokoh yang memperkenalkan ekonomi makro di Indonesia.

Sumitro sendiri tidak pernah menempatkan dirinya sebagai arsitek utama perekonomian nasional. Ia menganggap perannya sebatas menyediakan bahan bagi perancang kebijakan yang datang kemudian.

Pandangan mengenai pembangunan semakin jelas melalui kuliah umumnya pada 1953. Sumitro menegaskan negara berkembang tidak dapat menyerahkan seluruh urusan ekonomi kepada pasar.

Karena itu, pemerintah harus aktif menentukan arah produksi, industri, dan investasi nasional. Kehadiran negara diperlukan untuk mengubah struktur ekonomi yang timpang dan tertinggal.

Gagasan tersebut juga tercermin melalui Program Benteng pada dekade 1950-an. Program itu memberikan kredit dan lisensi kepada pengusaha pribumi agar mampu tumbuh serta bersaing.

Akan tetapi, pelaksanaannya kembali menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Sejumlah penerima fasilitas justru menjual lisensi impor kepada pengusaha keturunan Tionghoa.

Akibatnya, Program Benteng belum berhasil melahirkan kelompok pengusaha lokal yang benar-benar mandiri. Persoalan tersebut kembali menunjukkan lemahnya pengawasan dan administrasi pemerintahan saat itu.

Perhatian Sumitro kemudian menjangkau persoalan pangan dan pembangunan pertanian. Ia menekankan keseimbangan produksi, pertumbuhan industri, dan jumlah penduduk untuk mencapai swasembada.

Pada investasi asing, Sumitro tetap menghendaki keterlibatan kuat pemerintah dalam perusahaan luar negeri. Negara perlu hadir melalui saham, manajemen, pengembangan sumber daya, dan perekrutan tenaga lokal.

Pandangan itu kemudian terlihat dalam Undang-Undang Penanaman Modal Asing yang berlaku sejak 1967. Kebijakan tersebut menjadi pintu masuk investasi asing pada awal pemerintahan Orde Baru.

Saat menjadi Menteri Perdagangan pada 1968, Sumitro melarang impor mobil mewah. Setahun kemudian, pemerintah membatasi modal asing melalui pemberian lisensi produksi otomotif.

Seluruh perakitan kendaraan harus dijalankan perusahaan Indonesia, meskipun menggunakan lisensi produsen asing. Tujuannya memperkuat industri lokal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap barang impor.

Bagi Sumitro, manufaktur mampu mengubah struktur perekonomian secara lebih menyeluruh. Sektor itu diyakini mendorong pertanian, keterampilan, produktivitas, pengetahuan, dan penciptaan pekerjaan.

Oleh sebab itu, kebijakan publik harus diarahkan mengatasi ketimpangan struktural melalui campur tangan pemerintah. Pendekatan tersebut membedakannya dari pandangan yang menyerahkan pembangunan sepenuhnya kepada pasar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....