Jejak Sumitro Djojohadikusumo, Ekonom di Balik Pembangunan Ekonomi Indonesia

  • 04 Agt 2026 18:48 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sumitro berperan dalam pembangunan ekonomi, industrialisasi, pendidikan, serta pembentukan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
  • Pemikirannya menekankan keterlibatan negara dalam produksi, investasi, pangan, manufaktur, dan penyelesaian ketimpangan struktural.
  • Perjalanannya diwarnai kontroversi PRRI, dukungan intelijen Amerika Serikat, pengasingan, Mafia Berkeley, dan kritik terhadap Orde Baru.

Perjalanan intelektual Sumitro bermula ketika keluarganya mengirimnya ke Rotterdam, Belanda, pada 1935. Seluruh biaya pendidikan ditanggung keluarga yang disebutnya telah memberikan pengorbanan besar.

Saat itu, beasiswa umumnya tersedia bagi tentara atau calon pengkaji Indonesia untuk kepentingan kolonial. Sumitro menolak jalur tersebut karena tidak ingin bekerja bagi pemerintah Belanda.

Ia juga tidak memilih pendidikan hukum di Batavia maupun teknik di Bandung. Pilihannya akhirnya jatuh kepada ekonomi, meskipun filsafat dan sastra lebih dahulu menarik perhatiannya.

Ketertarikan terhadap perjuangan tumbuh setelah Sumitro membaca karya penulis Prancis, André Malraux. Dua karya itu membahas pemberontakan dan revolusi melalui Les Conquérants serta La Condition Humaine.

Dari bacaan tersebut, Sumitro mulai mencari penyebab rakyat Indonesia terus mengalami penindasan kolonial. Meski ingin berjuang, ia menolak pendekatan yang hanya berlandaskan emosi dan ideologi.

Ekonomi kemudian memberinya cara berpikir terukur, terencana, dan berpijak pada fakta. Menurutnya, setiap masalah harus dikenali sebelum riset dan analisis digunakan menemukan jawaban.

Melalui pendekatan itu, Sumitro ingin memahami pembagian masyarakat kolonial ke dalam tiga kelas. Pertanyaan tersebut memperkuat keyakinannya bahwa ekonomi dapat membantu membedah akar ketidakadilan.

Proses belajarnya berlangsung luas dengan membaca Karl Marx, F.W. Taussig, John Maynard Keynes, dan Alvin Hansen. Ia juga mempelajari Edward Chamberlin untuk memahami pihak yang mengendalikan mekanisme pasar.

Sumitro sempat kesulitan memahami General Theory karya Keynes ketika menempuh pendidikan. Pemahamannya kemudian berkembang setelah membaca pembahasan ekonomi Keynesian melalui karya Alvin Hansen.

Pada usia 25 tahun, Sumitro menyelesaikan disertasi The People's Credit System during the Depression pada 1943. Penelitian itu menelaah perekonomian pedesaan Jawa ketika masyarakat menghadapi tekanan berat.

Melalui kajiannya, Sumitro membantah klaim Belanda bahwa masyarakat tetap bertahan melalui pekerjaan informal. Ia menemukan pengangguran terselubung, pekerjaan berkualitas rendah, dan penurunan pendapatan riil.

Keadaan tersebut juga terlihat ketika orang tuanya harus menopang kehidupan banyak anggota keluarga. Pengalaman itu memperkuat perhatiannya terhadap produktivitas, pekerjaan, dan pendapatan riil masyarakat.

Temuan tersebut sekaligus menggugat anggapan bahwa kemiskinan muncul karena kebudayaan masyarakat Indonesia. Baginya, persoalan itu berkaitan dengan teknologi, perang, revolusi, dan ketimpangan struktural.

Berbekal pandangan tersebut, Sumitro memasuki pemerintahan pada masa Demokrasi Parlementer. Ketika itu, kabinet mudah berganti karena kekuasaan pemerintah sangat bergantung kepada parlemen.

Meskipun kabinet silih berganti, keahlian Sumitro membuatnya tetap dipercaya memegang jabatan strategis. Pada usia 33 tahun, ia menjadi Menteri Perdagangan dan Industri dalam Kabinet Mohammad Natsir.

Jabatan tersebut diembannya sepanjang 1950 hingga 1951 sebelum pemerintahan kembali berganti. Selanjutnya, Sumitro menjadi Menteri Keuangan dalam Kabinet Wilopo selama 1952 hingga 1953.

Kepercayaan serupa kembali diterimanya dalam Kabinet Burhanuddin Harahap pada 1955 hingga 1956. Perjalanan itu memperlihatkan pengaruh Sumitro melintasi pemerintahan dengan kepentingan politik berbeda.

Kecakapannya juga terlihat ketika seorang warga Amerika Serikat memuji kemampuan bahasa Inggrisnya. Orang tersebut mengira Sumitro pernah berkuliah di Amerika, padahal ia justru pernah mengajar di sana.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....