Penyelamat Kemerdekaan! Intip Jejak Sejarah Radio Republik Indonesia (RRI)

  • 10 Sep 2026 11:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Radio menjadi media informasi tercepat di Indonesia sebelum kehadiran internet
  • Bataviaasche Radio Vereeniging yang didirikan pada 16 Juni 1925 merupakan salah satu tonggak sejarah penyiaran radio di Indonesia sebelum RRI berdiri.
  • Radio berperan penting sebagai alat perjuangan menyebarkan kabar kemerdekaan Indonesia sebelum era internet.
  • Peringatan Hari Radio Nasional digelar setiap 11 September untuk mengenang sejarah penyiaran di Indonesia.

RRI.CO.ID, Jakarta - Jauh sebelum internet hadir, radio menjadi salah satu cara tercepat masyarakat Indonesia menerima informasi penting. Pada masa revolusi, radio bahkan dipakai sebagai alat perjuangan untuk menyebarkan kabar kemerdekaan ke berbagai daerah.

Sejarah radio di Indonesia sudah dimulai sebelum RRI berdiri pada 1945. Salah satu tonggaknya adalah Bataviaasche Radio Vereeniging, yang berdiri pada 16 Juni 1925.

Radio kemudian berkembang menjadi sarana mengenalkan kebudayaan Nusantara kepada pendengar. Salah satunya melalui Solosche Radio Vereeniging, yang berdiri pada 1933.

Dilansir dari berbagai sumber, Saat Jepang mulai menduduki Indonesia, radio swasta dibekukan dan dikendalikan Hoso Kanri Kyoku. Radio pun digunakan untuk menyampaikan informasi sekaligus propaganda Jepang kepada masyarakat.

Namun, radio justru menjadi sangat penting ketika Indonesia memasuki masa awal kemerdekaan. Setelah siaran Hoso Kyoku berhenti pada 19 Agustus 1945, kebutuhan terhadap saluran informasi semakin mendesak.

Para pejuang radio lalu berusaha mempertahankan penyiaran meski pemancar utama disegel Jepang. Sebagian penyiar bahkan mencoba membuat pemancar baru di Menteng 31 agar kabar kemerdekaan tetap terdengar.

Kondisi itu menunjukkan radio bukan sekadar perangkat hiburan. Radio menjadi sarana strategis untuk menjaga komunikasi Republik tetap berjalan.

Pada 11 September 1945, delapan perwakilan radio bekas Hoso Kyoku bertemu pemerintah. Mereka mengusulkan agar radio dipakai sebagai alat komunikasi pemerintah dengan rakyat.

Dari pertemuan itu lahirlah Radio Republik Indonesia. RRI kemudian meneruskan siaran dari delapan stasiun radio di Pulau Jawa.

Dr. Abdulrahman Saleh ditetapkan sebagai pemimpin umum pertama RRI. Namanya kemudian tercatat penting dalam sejarah radio Indonesia.

Perjuangan radio juga meninggalkan jejak di berbagai daerah. Melansir Arsip Nasional, peralatan radio Jepang di Singaraja kemudian dipakai untuk mendukung siaran RRI setelah dikuasai pemuda.

Sejarah itu membuat Hari Radio Nasional diperingati setiap 11 September. Peringatan ini mengingatkan bahwa suara melalui radio pernah menjadi alat penting untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. (Shafira Nursyifa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....