Karnaval Budaya, Dari Rumah Adat hingga Cita-Cita, Merdeka di Jalanan Bintuni

  • 15 Agt 2026 21:57 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Bintuni – Matahari siang terasa menyengat di atas Kota Bintuni, Sabtu 15 Agustus 2026. Namun panas itu tak mampu mengurangi semangat ribuan warga yang memadati jalanan untuk mengikuti Karnaval Budaya dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dari depan Kantor Dinas Perhubungan Teluk Bintuni, puluhan kelompok peserta mulai bersiap. Warna-warni pakaian adat, atribut merah putih, miniatur rumah adat, hingga alat musik tradisional menghiasi barisan yang memanjang. Di antara keramaian itu, wajah-wajah anak sekolah tampak sumringah. Sebagian mengenakan seragam polisi, tentara, dokter, hingga perawat, menggambarkan cita-cita yang ingin mereka raih di masa depan.

Tepat pukul 14.00 WIT, Wakil Bupati Teluk Bintuni Joko Lingara melepas rombongan karnaval didampingi Plt Sekda I.B. Putu Suratna, Kepala BPKAD Laras Nuryani, Kepala Dinas Pendidikan Henry Kapuangan, serta sejumlah pimpinan OPD lainnya.

Sebelum melepas peserta, Wakil Bupati Teluk Bintuni, Joko Lingara mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga semangat persatuan yang menjadi fondasi pembangunan daerah.

“Saya melepaskan karnaval dalam rangka memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia di Teluk Bintuni dengan penuh semangat dan kebersamaan. Mari kita jaga persatuan ini sebagai kekuatan untuk membangun daerah yang kita cintai,” ujar Joko Lingara.

Sebanyak 47 grup turut ambil bagian dalam karnaval tahun ini. Mereka berasal dari kalangan siswa SD, SMP, SMA, para guru, organisasi kemasyarakatan, hingga berbagai paguyuban dan kelompok pemuda lintas suku.

Di sepanjang rute menuju Lapangan Gedung Serbaguna Kompleks Kali Kodok, peserta menampilkan beragam ekspresi budaya. Ada yang memperagakan tarian daerah, memainkan alat musik tradisional, hingga mengusung simbol-simbol identitas suku masing-masing.

Namun karnaval ini tidak hanya menghadirkan kemeriahan. Beberapa peserta membawa pesan moral yang ditulis pada kertas manila, mengingatkan pentingnya kejujuran dan integritas dalam pengelolaan program pembangunan. Pesan-pesan sederhana itu menjadi pengingat bahwa kemerdekaan juga harus diisi dengan tanggung jawab.

Di tengah barisan, suasana semakin meriah dengan hadirnya berbagai kostum unik. Ada yang tampil sebagai Mak Lampir, pocong, Shaun the Sheep, hingga tuyul dan pemutaran musik yang semakin membuat meriah. Beberapa peserta bahkan mengenakan daster dan memerankan kehidupan sehari-hari ibu rumah tangga. Gelak tawa warga pun pecah setiap kali rombongan itu melintas.

Bagi Roy Masyewi, pemuda Suku Wamesa, karnaval budaya bukan sekadar perayaan tahunan. Ia melihatnya sebagai ruang belajar yang mempertemukan generasi muda dengan akar budayanya sendiri.

Roy sengaja mengajak anak-anak ikut berjalan bersama membawa identitas budaya Wamesa. Baginya, memperkenalkan budaya sejak dini adalah cara sederhana untuk memastikan warisan leluhur tetap hidup di tengah perubahan zaman.

“Melibatkan budaya dalam karnaval ini luar biasa. Bukan hanya semangat merayakan kemerdekaan, tetapi juga semangat menjaga budaya yang ada agar tetap dikenal dan dicintai generasi muda,” kata Roy Masyewi.

Di antara derap langkah peserta dan tepuk tangan warga yang menyaksikan di pinggir jalan, tersimpan pesan yang lebih besar dari sekadar perayaan. Karnaval budaya menjadi ruang perjumpaan berbagai suku, agama, dan latar belakang yang hidup berdampingan di Teluk Bintuni.

Tahun ini, nuansa kebersamaan terasa semakin kuat. Jika pada tahun-tahun sebelumnya terdapat karnaval khusus tujuh suku, kali ini seluruh unsur masyarakat bergabung dalam satu arak-arakan besar. Perbedaan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan menyatu dalam satu barisan panjang bernama Indonesia.

Di jalanan Kota Bintuni sore itu, kemerdekaan tidak hanya diperingati melalui bendera dan upacara. Kemerdekaan hadir dalam tawa anak-anak, irama musik tradisional, warna-warni pakaian adat, dan semangat warga yang bersama-sama merawat keberagaman. Sebuah pengingat bahwa Indonesia akan selalu kuat ketika budayanya tetap hidup dan persatuannya terus dijaga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....