Prosesi Kurban Adat Tandai Ground Breaking Pelabuhan Teluk Bintuni
- 05 Agt 2026 14:05 WIB
- Manokwari
RRI.CO.ID, Bintuni- Pembangunan Pelabuhan Teluk Bintuni di Distrik Babo, diawali dengan prosesi adat yang sarat makna. Sebelum pelaksanaan ground breaking pada Rabu 5 Agustus 2026, masyarakat adat setempat terlebih dahulu menggelar ritual penghormatan kepada leluhur sebagai bentuk permohonan keselamatan dan kelancaran pembangunan pelabuhan hingga rampung.
Prosesi adat tersebut dilakukan di lokasi pembangunan pelabuhan dengan melibatkan para tetua adat, tokoh agama, serta jajaran pemerintah daerah. Ritual diawali dengan pembacaan doa oleh tetua adat Muhammad Arum Refideso yang menggunakan bahasa daerah setempat. Dalam prosesi itu disiapkan pula sesaji berupa sirih, pinang, dan tembakau sebagai simbol penghormatan kepada leluhur penjaga wilayah.
Setelah doa adat dipanjatkan, masyarakat adat melanjutkan ritual dengan menyiapkan seekor sapi yang akan dikurbankan. Hewan tersebut terlebih dahulu dimandikan dan menjalani serangkaian tahapan ritual sebelum disembelih oleh tokoh agama.
| Baca juga: Mendikdasmen RI Tiba di Manokwari |
Sebelum penyembelihan dilakukan, Bupati Teluk Bintuni Yohanis Manibuy, Wakil Bupati Joko Lingara, perwakilan Komando Daerah Angkatan Laut Sorong, serta Dinas Perhubungan Provinsi Papua Barat turut melemparkan koin di lokasi ritual sebagai bagian dari tradisi adat yang telah diwariskan turun-temurun.
Darah hewan kurban kemudian diambil untuk ditempatkan di titik-titik tertentu, sementara kepala dan kaki sapi dibungkus dan ditanam di lokasi yang telah ditentukan sebagai bagian dari prosesi adat.
Usai penyembelihan, suasana ritual semakin khidmat ketika salah seorang pemilik hak ulayat disebut mengalami pengalaman spiritual yang diyakini sebagai bentuk kehadiran roh leluhur. Prosesi tersebut berlangsung singkat dan menjadi bagian dari tradisi yang masih dijaga oleh masyarakat adat setempat.
Tokoh agama Bakti Alkatiri mengatakan ritual tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus permohonan agar seluruh tahapan pembangunan berjalan aman dan lancar.
"Ritual ini adalah bentuk penghormatan dan persembahan kepada leluhur. Kami memohon izin kepada pemilik wilayah agar pembangunan berjalan lancar dan semua pekerja yang terlibat diberikan keselamatan," ujarnya.
Menurut Bakti, tradisi serupa biasanya dilakukan saat memulai pembangunan rumah, jembatan maupun fasilitas umum lainnya. Selain penggunaan sirih, pinang dan koin sebagai simbol adat, hewan kurban yang digunakan tidak harus sapi, tetapi dapat disesuaikan dengan kemampuan masyarakat setempat.
"Yang terpenting adalah niat untuk meminta restu dan keselamatan. Hewan kurban bisa sapi, ayam, atau lainnya sesuai kemampuan masyarakat," katanya.
Ground breaking Pelabuhan Teluk Bintuni diharapkan menjadi langkah awal percepatan pembangunan infrastruktur transportasi laut yang akan mendukung konektivitas dan pertumbuhan ekonomi masyarakat di wilayah Teluk Bintuni.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....