Lomba Panahan Tradisional Meriahkan HUT ke-81 RI di Teluk Bintuni

  • 11 Agt 2026 18:26 WIB
  •  Manokwari

RRI.CO.ID, Bintuni – Semangat pelestarian budaya lokal mewarnai peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Teluk Bintuni. Puluhan warga antusias mengikuti lomba panahan tradisional yang digelar Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni di Lapangan Gedung Serbaguna (GSG) Kalikodok Selasa, 11 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut diawali dengan Bupati Teluk Bintuni Yohanis Manibuy dan Wakil Bupati Joko Lingara yang turut mencoba panahan tradisional sebelum perlombaan dimulai. Kehadiran keduanya menjadi simbol dukungan pemerintah terhadap upaya pelestarian budaya masyarakat adat.

Koordinator Lomba Panahan Tradisional dari Perpani Teluk Bintuni, Kadarusman, mengatakan sebanyak 48 peserta mendaftarkan diri dalam perlombaan tersebut. Namun, peserta yang hadir dan mengikuti pertandingan berjumlah sekitar 35 orang, sebagian besar berasal dari distrik-distrik pegunungan.

“Yang terdaftar ada 48 orang, tetapi yang hadir sekitar 35 peserta,” ujarnya.

Ia menjelaskan, lomba menggunakan sistem gugur hingga menghasilkan empat peserta terbaik yang meraih juara satu hingga juara empat. Para pemenang akan mendapatkan hadiah berupa uang pembinaan dari panitia.

Menurut Kadarusman, lomba panahan tradisional tidak hanya menjadi bagian dari kemeriahan perayaan kemerdekaan, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya masyarakat adat Teluk Bintuni.

Salah seorang peserta, Anus Meyem, Kepala Kampung Meyerga, menyampaikan apresiasinya kepada Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni yang telah memasukkan panahan tradisional dalam rangkaian perlombaan HUT RI tahun ini.

“Kami masyarakat, khususnya suku Moskona, bangga sekali dengan kegiatan ini karena kami bisa menampilkan budaya kami, yaitu panahan tradisional, pada peringatan HUT Kemerdekaan RI,” katanya.

Anus berharap kegiatan serupa tidak berhenti sampai di sini, tetapi dapat terus dikembangkan hingga ke tingkat yang lebih tinggi agar panahan tradisional mampu bersaing dan dikenal lebih luas.

Menurutnya, panahan tradisional merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat adat yang sejak dahulu digunakan untuk berburu dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seperti menangkap burung dan ikan. Selain itu, alat tersebut juga berfungsi sebagai sarana perlindungan diri dan keluarga.

Ia pun mengajak para orang tua, khususnya dari suku Moskona dan Arfak, untuk terus mengajarkan tradisi tersebut kepada anak-anak mereka. Hal ini dilakukan untuk menjaga kebudayaan tetap lestari di masa mendatang.

“Saya berharap orang tua mengajarkan anak-anak agar mengenal tradisi dan budaya kami. Budaya ini harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya agar tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....