Logistik Belum Jangkau Pelosok, Warga Hadapi Dingin 4 Derajat dan Krisis Air Bersih
- 28 Agt 2026 20:44 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Kebutuhan bantuan bagi penyintas gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya berkaitan dengan layanan medis, tetapi sejumlah warga yang tinggal di kawasan terpencil masih menghadapi persoalan distribusi logistik, ketersediaan air bersih, hingga kerusakan infrastruktur yang membuat kehidupan pascabencana semakin berat.
Bahkan, masih terdapat kelompok pengungsian mandiri di kawasan perbukitan dan pelosok yang belum seluruhnya terdeteksi dalam jalur distribusi bantuan. Hal itu disampaikan Ketua Tim Penanganan Trauma Respons Bencana NTT dari Universitas Brawijaya (UB), Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB), Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA), dan Ikatan Alumni (IKA) UB Malang, Dr. dr. Agung Riyanto Budi S., Sp.OT(K).
“Ada beberapa pengungsi yang tidak terdeteksi oleh tim dan masih berada di puncak-puncak bukit. Mungkin kita perlu tim taktis yang bisa mengirimkan sumbangan sampai ke titik-titik terpencil di pegunungan,” kata Agung.
Melalui program Halo RRI, Jumat 28 Agustus 2026, Agung menilai diperlukan tim yang mampu menjangkau titik-titik terpencil untuk memastikan bantuan sampai kepada warga.
Dalam pantauannya selam 7 hari di lokasi terdampak, sebagian besar masyarakat, masih belum berani tidur di dalam rumah karena trauma dan kekhawatiran terhadap gempa susulan. Mereka memilih bermalam di bawah terpal yang dipasang di depan rumah masing-masing.
Situasi tersebut menjadi semakin berat karena suhu di kawasan terdampak dapat turun hingga sekitar 4 derajat Celsius pada malam hari. Tim medis dari Malang juga telah menyalurkan selimut untuk anak-anak yang berada di lokasi pengungsian.
“Hampir semua masyarakat di sini masih belum berani tidur di dalam rumah. Mereka tidur di terpal-terpal di depan rumah masing-masing, dengan kondisi suhu yang sangat dingin,” ujarnya.
Selain kebutuhan pangan, air bersih menjadi persoalan mendesak bagi masyarakat di kawasan terdampak. Warga harus berupaya lebih keras untuk memperoleh air, bahkan sebagian di antaranya harus membeli kebutuhan tersebut.
“Kebutuhan yang mendesak jelas nutrisi untuk teman-teman di atas, kemudian sanitasi dan kebutuhan air bersih. Selama ini mereka kadang harus repot, bahkan harus membeli,” kata Agung.
Kerusakan infrastruktur juga terlihat di sejumlah wilayah. Saat tim medis dari Malang melakukan perjalanan menuju puskesmas pembantu dan lokasi pengungsian, rumah-rumah warga yang berada di sepanjang jalur banyak yang mengalami kerusakan berat hingga rata dengan tanah.
Kondisi geografis yang didominasi kawasan pegunungan turut menjadi tantangan dalam operasi kemanusiaan. Tim medis harus menggunakan kendaraan khusus, ambulans, dan sepeda motor trail untuk menembus wilayah terdampak.
Agung mengatakan pemulihan jangka panjang harus diarahkan pada perbaikan infrastruktur sekaligus memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi. Bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal, proses membangun kembali kehidupan akan menjadi tantangan besar setelah masa tanggap darurat.
“Kebutuhan infrastruktur ini akan menjadi pekerjaan besar ke depan. Banyak rumah teman-teman yang rata dengan tanah,” ujarnya.
Tim gabungan UB, RSUB, RSSA, dan IKA UB Malang pun terus mengombinasikan pelayanan medis dengan pemantauan kondisi pengungsian, terutama di wilayah yang belum banyak dijangkau bantuan. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu memastikan kebutuhan warga terdampak gempa tidak terlewat, khususnya mereka yang tinggal di kawasan terpencil.
Hal tersebut dibenarkan Koordinator Tim Aju - Data dan Informasi Respon Bencana NTT Universitas Brawijaya - RSUD dr. Saiful Anwar, dr. Jeffrey Johannes, Sp.Em, M.M.(RS), FICEP. Salah satu daerah yang sudah berhasil dijangkau adalah Dusun Coco, Kecamatan Bangka Kenda, Kabupaten Manggarai, NTT.
“Dusun ini kami tempuh dengan perjalanan yang tidak mudah, area pegunungan dan melewati area hutan,” terang Jeffrey.
Ia menjelaskan untuk memberi pelayanan di dusun tersebut, timnya baru bisa menjangkau setelah menempuh medan yang sulit dengan menggunakan kendaraan 4WD milik DPRM Universitas Brawijaya yang didatangkan dari Kota Malang
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....