Tim Medis UB-RSSA Malang Jemput Bola ke Pelosok NTT, Sudah Tangani 400 Lebih Pasien
- 28 Agt 2026 21:09 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Tim gabungan penanganan trauma respons bencana Nusa Tenggara Timur (NTT) dari Universitas Brawijaya (UB), Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB), Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA), dan Ikatan Alumni (IKA) UB Malang tidak hanya membuka layanan kesehatan di rumah sakit. Tim yang telah memasuki hari ketujuh penugasan itu juga mendatangi pengungsian dan wilayah pelosok yang belum terjangkau layanan medis.
Ketua Tim Penanganan Trauma Respons Bencana NTT UB-RSUB-RSSA-IKA UB Malang, Dr. dr. Agung Riyanto Budi S., Sp.OT(K), mengatakan, tim membawa 24 personel dari Malang dengan latar belakang keahlian multidisiplin.
Dalam program Halo RRI, Jumat 28 Agustus 2026, Agung menyebut tim terdiri atas dokter spesialis bedah tulang, dokter bedah umum, dokter penyakit dalam, dokter anestesi, dokter umum, perawat, dan tenaga emergensi.
“Kita datang 24 personel. Dokter bedah tulangnya ada dua, dokter bedah umum satu, dokter penyakit dalam satu, dokter kesehatan umum satu, dokter anestesinya dua, serta perawat dan dokter emergensi,” kata Agung.
Sebelum tim utama diberangkatkan, tim gabungan terlebih dahulu mengirim Tim AJU yang terdiri atas dua dokter dan seorang perawat untuk memetakan kebutuhan serta kondisi di lokasi terdampak. Setelah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Pusat Komando Penanganan Bencana, tim kemudian bergerak ke wilayah yang belum terjangkau tenaga medis.
“Kita tidak hanya menunggu di rumah sakit. Kita berkeliling di camp-camp yang belum terjangkau tim medis lain, supaya dampak kita kepada teman-teman pengungsi bisa lebih terasa,” ujarnya.
Untuk menjangkau kawasan terpencil dan pegunungan, tim menggunakan satu kendaraan Hilux, satu ambulans, serta satu sepeda motor trail. Strategi jemput bola menjadi pilihan karena banyak warga terdampak kesulitan mengakses fasilitas kesehatan.
Dalam satu kali pelayanan, tim bahkan mampu menangani sekitar 110 pasien. Secara keseluruhan, selama bertugas di NTT, sekitar 400 pasien nonoperatif telah mendapatkan penanganan, sementara 13 pasien menjalani tindakan operasi.
Layanan yang diberikan meliputi kesehatan anak, penyakit dalam, penanganan trauma, hingga tindakan bedah tulang. Pasien dengan patah tulang yang membutuhkan operasi akan dievakuasi menggunakan ambulans menuju rumah sakit lapangan.
Agung mengatakan stok obat dan peralatan medis yang dibawa tim masih mencukupi untuk menjalankan pelayanan. Tim berangkat dengan 14 koli peralatan dan logistik kesehatan, termasuk obat-obatan serta implan untuk operasi ortopedi.
“Tim ini amunisinya Alhamdulillah paling lengkap di antara tim-tim lain. Kita berangkat secara multidisiplin, implan kita lengkap, sehingga untuk tindakan operasi tidak perlu menunggu lagi,” katanya.
Menurut Agung, kelengkapan peralatan memungkinkan tim memberikan pelayanan medis secara paripurna. Fokus bantuan dari Malang diarahkan pada penanganan kesehatan spesialistik, mengingat bantuan bahan pokok telah datang dari berbagai pihak.
Selain menangani trauma akibat gempa, tim juga mulai menghadapi berbagai penyakit yang muncul setelah warga bertahan di pengungsian. Kondisi tersebut membuat layanan penyakit dalam dan ketersediaan obat menjadi bagian penting dalam operasi kemanusiaan di NTT.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....