Disnakkan Blitar Pastikan Hewan Kurban Sehat dan Aman Dikonsumsi

  • 25 Mei 2026 15:40 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Blitar - Menjelang Hari Raya Iduladha, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar memastikan kondisi hewan kurban di wilayahnya dalam keadaan sehat dan stoknya mencukupi kebutuhan masyarakat.

Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Disnakkan Kabupaten Blitar, drh. Lusia Adityaningtyas mengatakan, pengawasan kesehatan hewan telah dilakukan secara intensif sejak dua minggu terakhir di sejumlah pasar hewan milik pemerintah maupun desa, terutama di wilayah Srengat dan Wlingi.

"Monitoring kesehatan hewan sudah kami lakukan sejak dua minggu lalu sampai minggu kemarin. Hewan yang datang jumlahnya cukup banyak, namun stok hewan kurban di Kabupaten Blitar dipastikan mencukupi," ujarnya, Senin (25/5/2026).

Selain pemantauan di pasar hewan, Disnakkan juga melakukan pengawasan di lokasi penyembelihan hewan kurban. Tahun ini, tercatat ada 59 ekor sapi yang disembelih di Rumah Potong Hewan (RPH) yang berada di wilayah Srengat, Kademangan, dan Wlingi.

Dalam hasil monitoring tersebut, pihaknya memastikan tidak ditemukan penyakit berbahaya seperti Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS). Temuan yang ada hanya kasus ringan berupa skabies atau gatal pada beberapa hewan.

"Untuk penyakit berbahaya tidak ada. Di Pasar Hewan Wlingi hanya ditemukan dua ekor mengalami skabies atau gatal. Di pasar hewan desa juga hanya ditemukan gatal biasa dan tidak membahayakan," jelasnya.

Untuk memastikan kesehatan hewan kurban dan keamanan daging yang dikonsumsi masyarakat, Disnakkan menerjunkan total 160 petugas gabungan yang terdiri dari dokter hewan, medik dan paramedik veteriner.

Rinciannya, sebanyak 55 petugas dari dinas, 52 dari PDHI Jatim 8 (Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Cabang Jawa Timur VIII) dan 53 paramedik veteriner.

Pengawasan juga melibatkan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi untuk membantu monitoring sebelum dan sesudah penyembelihan.

"Koordinasi dilakukan mulai tingkat daerah hingga desa. Kami juga dibantu kecamatan dan pemerintah desa dalam pengawasan di lapangan," katanya.

Lusia menambahkan, pihaknya terus melakukan sosialisasi terkait penanganan organ hewan yang ditemukan tidak layak konsumsi, seperti hati yang mengalami kelainan atau cacing hati.

Menurutnya, masyarakat kini sudah mulai memahami langkah penanganan yang benar.

"Kalau ditemukan hati yang aneh atau tidak layak, masyarakat sudah tahu harus dibuang dan tidak dikonsumsi," tambahnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....