Lansia Mudah Kesepian dan Kembali Seperti Anak Kecil, Keluarga Diminta Lebih Peka

  • 07 Mei 2026 07:37 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Memasuki usia lanjut bukan hanya membuat seseorang mengalami penurunan fisik, tetapi juga perubahan psikologis yang cukup besar. Banyak lansia menjadi lebih sensitif, mudah marah, merasa kesepian, hingga menunjukkan perilaku seperti anak kecil karena membutuhkan perhatian lebih dari keluarga.

Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya, Dr. Yati Sri Hayati, S.Kp., M.Kes saat membahas tema “Merawat Lansia dengan Hati” dalam dialog bersama PRO 1 RRI Malang.

Menurutnya, perubahan kondisi mental lansia sering kali dipengaruhi oleh banyak faktor. Mulai dari pensiun, kehilangan pasangan hidup, berkurangnya aktivitas sosial, hingga menurunnya kondisi kesehatan tubuh membuat lansia merasa kehilangan peran dan kesepian.

“Dulu waktu masih bekerja mereka punya aktivitas, punya teman, dihormati banyak orang. Ketika masuk usia lansia semuanya berubah. Itu yang sering membuat lansia merasa sedih dan sendiri,” ujarnya, Kamis (7/5/2026)

Dr. Yati menjelaskan, secara fisiologis seluruh fungsi tubuh lansia memang mengalami penurunan, termasuk fungsi otak dan emosi. Karena itu, banyak lansia menjadi lebih mudah tersinggung, sensitif, bahkan marah karena hal-hal kecil.

“Kadang hanya karena barang kesayangannya dipindah tempat, lansia bisa marah atau ngambek seperti anak kecil. Itu sebenarnya bentuk kebutuhan untuk diperhatikan,” katanya.

Ia mengingatkan keluarga agar tidak menganggap kondisi tersebut sebagai hal sepele. Sebab, lansia yang merasa diabaikan berisiko mengalami gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, hingga demensia atau penurunan daya ingat.

“Lansia itu jangan dianggap wajar kalau pikun atau murung terus. Harus diperhatikan, diajak komunikasi, dilibatkan dalam aktivitas keluarga,” jelasnya.

Menurut Dr. Yati, perhatian sederhana dari keluarga dapat memberikan dampak besar terhadap kondisi psikologis lansia. Misalnya mengajak jalan pagi bersama, menemani menonton televisi, atau sekadar mendengarkan cerita mereka.

“Kadang duduk di sampingnya sambil memegang tangan saja sudah membuat lansia merasa tenang dan dihargai,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan para caregiver agar tetap sabar dalam menghadapi perubahan emosi lansia. Ketika lansia sedang marah atau sulit diajak bicara, keluarga diminta tidak membalas dengan emosi.

“Kalau lansia marah, jangan ikut marah. Dampingi dengan tenang, ajak bicara pelan-pelan. Pendekatan non-verbal seperti sentuhan juga sangat membantu menenangkan emosinya,” katanya.

Selain itu, Dr. Yati menyarankan agar lansia tetap diberi aktivitas ringan sehari-hari agar merasa masih memiliki peran dalam keluarga. Aktivitas seperti menyiram tanaman, membantu melipat pakaian, atau menyapu halaman dinilai mampu menjaga kesehatan mental lansia tetap stabil.

“Yang penting lansia merasa dirinya masih berguna dan tidak menjadi beban keluarga,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....