Warga Masih Takut Masuk Rumah, Tim Trauma Healing Malang Bergerak ke NTT

  • 28 Agt 2026 20:36 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Gempa yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya meninggalkan luka fisik dan kerusakan bangunan. Bagi banyak warga, terutama anak-anak yang kehilangan anggota keluarga atau mengalami langsung peristiwa mengerikan tersebut, bencana juga menyisakan trauma psikologis yang mendalam.

“Banyak anak-anak yang tidak berani masuk rumah sampai sekarang. Begitu masuk rumah, mereka teriak-teriak dan menangis. Trauma healing ini sangat penting buat kita sekarang,” kata Ketua Tim Penanganan Trauma Respons Bencana NTT dari Universitas Brawijaya (UB), Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB), Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA), dan Ikatan Alumni (IKA) UB Malang, Dr. dr. Agung Riyanto Budi S., Sp.OT(K).

Ia mengatakan penanganan kesehatan mental kini menjadi salah satu kebutuhan mendesak di lokasi bencana.

“Banyak anak masih belum berani masuk ke dalam rumah meskipun bangunan tersebut masih berdiri,” imbuhnya dalam program Halo RRI, Jumat 28 Agustus 2026,

Tim medis juga menemukan kisah kehilangan yang mendalam. Salah seorang anak berusia empat tahun kehilangan kedua orang tuanya setelah keduanya berupaya menyelamatkan sang anak ketika gempa terjadi.

Menurut Agung, trauma psikologis yang tidak tertangani dapat menjadi beban jangka panjang bagi para penyintas. Masyarakat yang sebelumnya terbiasa menghadapi gempa, kata dia, tetap mengalami dampak yang sangat besar akibat kekuatan gempa kali ini.

“Trauma psikis ini akan menjadi beban jangka panjang buat teman-teman yang ada di sini. Gempa 7,7 itu impact-nya sangat terasa sekali,” ujarnya.

Kondisi semakin berat karena masyarakat harus menghadapi berbagai kebutuhan dasar sekaligus memulai kembali kehidupan dari titik awal. Banyak warga kehilangan rumah dan masih harus bertahan di pengungsian.

Melihat kebutuhan tersebut, Universitas Brawijaya bersama jaringan rumah sakit dan alumni mengirim tim khusus untuk memberikan layanan pemulihan psikologis atau trauma healing dari Malang ke NTT.

Tim tersebut terdiri atas tujuh personel yang melibatkan tenaga kesehatan jiwa, perawat jiwa, dokter spesialis yang menangani kebutuhan ibu hamil dan ibu menyusui, serta tenaga kesehatan lainnya.

“Tim yang dalam perjalanan ada tujuh. Ada dokter jiwa dan perawat jiwa, karena memang pelayanan untuk aspek psikis menjadi kebutuhan penting bagi teman-teman di sini,” kata Agung.

Tim trauma healing diberangkatkan dari Bandara Juanda menuju Labuan Bajo sebelum melanjutkan perjalanan menuju wilayah penempatan di Ruteng. Kehadiran tenaga kesehatan jiwa diharapkan dapat memperkuat penanganan medis yang sebelumnya telah dilakukan tim gabungan di lokasi bencana.

Agung menilai pemulihan pascagempa tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah dan infrastruktur. Pemulihan kondisi mental masyarakat juga harus berjalan seiring agar penyintas dapat kembali menjalani kehidupan dengan rasa aman.

“Kebutuhan infrastruktur dan mental ini yang menjadi pe-er besar buat kita semua,” tegasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....