“Sekolah Damai”: KKN UMM Edukasi Guru dan Orang Tua Cegah Masalah Perilaku Anak
- 21 Agt 2026 01:25 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Permasalahan perilaku anak usia dini tidak selalu identik dengan kenakalan. Pemahaman yang tepat terhadap tahap tumbuh kembang anak dinilai penting agar guru dan orang tua dapat memberikan pendampingan tanpa memberi label negatif.
Hal itu menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak 186 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Melalui program edukasi bertajuk “Sekolah Damai”, mahasiswa memberikan pemahaman kepada guru dan orang tua di enam sekolah mengenai perkembangan emosi, sosial, perilaku, serta imajinasi anak.
Edukasi dalam bentuk seminar telah digelar di enam sekolah, yakni TK Dharma Wanita, RA Bahrul Ulum, RA Mamba’ul Ulum, TK Shirottul Jannah, RA Miftahul Ulum, dan RA An-Nashr. Rangkaian kegiatan berlangsung sejak 7 hingga 19 Agustus 2026 dan diikuti sekitar 180 wali murid.
Menurut Dosen Pembimbing Lapangan KKN Berdampak 186, Drs. Ir. Moh. Jufri, S.T., M.T., pendidikan perdamaian perlu dibangun sejak anak berada pada usia dini. Pembiasaan tersebut membutuhkan keterlibatan banyak pihak, bukan hanya sekolah.
“Melalui Sekolah Damai, desa, pemuda, guru, orang tua, dan mahasiswa KKN bersinergi membiasakan anak-anak menghargai perbedaan, menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan, dan menjadi generasi pembawa perdamaian,” papar Jufri, Kamis, 20 Agustus 2026.
Materi edukasi juga menekankan bahwa anak usia 4-6 tahun berada pada fase penting perkembangan atau golden age. Pada periode ini, anak mulai aktif menggunakan bahasa, simbol, dan gambar untuk mengekspresikan diri, tetapi masih memiliki keterbatasan dalam memahami sudut pandang orang lain.
Pemateri, mahasiswa Psikologi UMM angkatan 2024, Muhammad Athiansyah Zaki Fadillah menjelaskan setiap anak memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda. Karena itu, pendekatan terhadap perilaku anak tidak dapat dilakukan secara seragam.
“Setiap anak memiliki kebutuhan, kesempatan, dan cara belajar yang berbeda-beda. Kita tidak bisa menyamaratakan seluruh anak,” jelasnya dalam seminar.
Athiansyah menambahkan, kesehatan mental menjadi bagian penting dalam perkembangan sosio-emosional anak. Guru dan orang tua didorong lebih peka terhadap perubahan perilaku yang muncul secara terus-menerus dan mulai mengganggu proses belajar maupun hubungan sosial anak.
Strategi yang diperkenalkan dalam program “Sekolah Damai” antara lain mendengarkan perasaan anak, memberikan teladan, mengapresiasi perilaku positif, menetapkan aturan secara konsisten, serta membangun komunikasi antara rumah dan sekolah.
Pendampingan mahasiswa memberikan manfaat praktis bagi pendidik dalam memahami perilaku anak. Materi yang disertai video dan contoh konkret membuat guru lebih mudah memahami strategi yang dapat diterapkan dalam keseharian. Program tersebut tidak hanya membantu guru dan orang tua mengenali perilaku anak, tetapi juga mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, hangat, dan ramah anak sejak usia dini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....