“Kuliner Lokal Indonesia, Kapan Mendunia?”
- 18 Agt 2026 12:14 WIB
- Malang
RRI.CO.ID,Malang - Restoran Jepang, Korea, dan Italia semakin mudah ditemukan di berbagai kota di Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan bagaimana kuliner asing mampu membangun ekosistem hingga diterima dan berkembang jauh dari negara asalnya.
Di sisi lain, Indonesia memiliki ribuan kekayaan kuliner daerah yang belum semuanya dikenal luas. Founder Gastronusa Edwin Pangestu menilai kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi industri gastronomi Indonesia.
Menurut Edwin, kuliner lokal tidak cukup hanya dipertahankan dalam bentuk autentik. Makanan Nusantara juga perlu berani berevolusi agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk berpeluang dikenal di tingkat global.
Pandangan tersebut disampaikan Edwin dalam dialog Culinary Tales Jilid 4 “Rasa Baku Dapa” bersama RRI Pro 2 Malang, Jumat (14/8/2026).
“Kalau kita lihat sekarang, makanan Jepang, Italia, Korea ada di mana-mana. Padahal Indonesia sendiri punya kuliner yang sangat beragam dan tidak kalah enak,” ujar Edwin.
Menurutnya, persoalan kuliner Indonesia bukan semata-mata soal kualitas makanan. Tantangan yang lebih besar adalah membangun ekosistem yang membuat makanan daerah dapat berkembang, dipasarkan, dan dikenal masyarakat luas.
Edwin melihat banyak kuliner daerah masih sangat bergantung pada daerah asalnya. Seseorang yang ingin menikmati makanan Padang dengan karakter autentik tertentu, misalnya, masih sering diarahkan untuk datang langsung ke Sumatera Barat. Hal serupa juga terjadi pada kuliner Manado yang identik dengan daerah asalnya.
Menurut Edwin, pola tersebut perlu mulai diubah.
“Bagaimana mau berkembang kalau orang harus pergi jauh dulu untuk bisa merasakan dan mengenal makanan itu?” katanya.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan kuliner internasional. Masyarakat Indonesia dapat menikmati makanan Jepang, Korea, maupun Italia tanpa harus pergi ke negara asalnya.
Menurut Edwin, hal itu tidak terjadi secara instan. Ada proses panjang dalam membangun restoran, pemasaran, sumber daya manusia, distribusi bahan baku, hingga ekosistem bisnis yang membuat kuliner suatu negara dapat diterima di pasar internasional.
Karena itu, menurut dia, kuliner Indonesia juga membutuhkan keberanian untuk membangun ekosistem serupa.
Salah satu tantangannya adalah kekhawatiran bahwa inovasi dapat membuat makanan daerah kehilangan keaslian. Padahal, Edwin menilai evolusi dan autentisitas tidak selalu harus dipertentangkan.
Makanan tradisional tetap dapat mempertahankan identitas rasa dan cerita budayanya, sembari dikembangkan melalui teknik penyajian, konsep restoran, maupun pendekatan yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.
“Kadang chef lebih memilih memasak ulang makanan luar karena takut kalau makanan Indonesia nanti kehilangan autentiknya. Padahal, kita harus bisa mengembangkan makanan lokal tanpa kehilangan identitasnya,” ujar Edwin.
Menurut Edwin, kekayaan kuliner Indonesia juga masih menghadapi persoalan eksposur. Saat berkeliling ke berbagai daerah, ia menemukan banyak makanan dan tradisi kuliner menarik yang belum mendapatkan perhatian luas.
“Banyak hal menarik di daerah yang belum terekspos. Itu yang sebenarnya cukup miris,” katanya.
Padahal, kuliner dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan daerah, budaya, hingga potensi ekonomi kreatif kepada masyarakat yang lebih luas.
Karena itu, upaya menjaga kuliner Indonesia tidak seharusnya hanya berorientasi pada pelestarian. Dibutuhkan pula inovasi, dokumentasi, promosi, serta pembangunan ekosistem agar makanan daerah mampu menjadi bagian dari industri gastronomi modern.
Bagi Edwin, persoalan tersebut pada akhirnya berkaitan dengan identitas. Ketika makanan lokal semakin jarang dikenal dan dikonsumsi oleh masyarakat sendiri, yang berisiko hilang bukan hanya sebuah menu, tetapi juga pengetahuan, cerita, tradisi, dan nilai budaya yang melekat di dalamnya.
Kuliner Indonesia memiliki modal yang besar untuk berkembang karena setiap daerah memiliki karakter rasa dan cerita masing-masing. Tantangannya adalah bagaimana kekayaan tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan di daerah asal, tetapi juga dapat dikenal dan dinikmati masyarakat Indonesia hingga dunia.
Melalui dialog Culinary Tales Jilid 4 “Rasa Baku Dapa”, Edwin mengajak pelaku gastronomi untuk melihat kuliner Nusantara bukan sebagai warisan yang harus dibekukan, melainkan kekayaan yang dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....