Gubes UB Gagas Upaya Perkuat Pangan Lokal dan Lestarikan Makanan Tradisional

  • 10 Jun 2026 09:21 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras dan gandum masih menjadi tantangan besar dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Di tengah melimpahnya sumber daya pangan lokal, diversifikasi konsumsi pangan dinilai perlu terus didorong agar masyarakat tidak hanya bergantung pada satu atau dua komoditas utama.

Hal tersebut disampaikan Prof. Erni Sofia Murtini, Ph.D. yang resmi dikukuhkan sebagai Profesor Bidang Teknologi Serealia dan Makanan Tradisional pada Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) pada Rabu (10/6/2026).

Ia menjadi profesor ke-28 di FTAB dan guru besar ke-257 di UB. Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Erni memperkenalkan Model SOPIA sebagai upaya upgrading produk berbasis serealia dan makanan tradisional.

Prof. Erni menjelaskan bahwa serealia merupakan kelompok tanaman biji-bijian dari golongan rumput-rumputan seperti padi, gandum, sorgum, dan rai yang menjadi sumber karbohidrat utama bagi manusia.

“Namun, meskipun jenis serealia yang tersedia sangat beragam, konsumsi masyarakat masih didominasi oleh komoditas tertentu,” tuturnya.

Di Indonesia, kondisi tersebut terlihat dari tingginya ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai makanan pokok.
⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠
“Tingginya kebutuhan beras mendorong produksi dalam skala besar yang menghasilkan limbah pertanian berupa jerami dalam jumlah melimpah. Hingga kini, pemanfaatan limbah tersebut masih belum optimal,” ujar Prof. Erni.

Selain beras, Prof. Erni juga menyoroti tingginya konsumsi produk berbahan dasar gandum seperti mi, roti, kue, dan aneka makanan ringan. Padahal, gandum yang digunakan hampir seluruhnya masih bergantung pada impor.

“Dalam bidang serealia, kita menghadapi dua persoalan utama, yakni ketergantungan pada beras dan ketergantungan pada gandum impor,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia memiliki berbagai sumber pangan lokal yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Salah satu komoditas yang memiliki potensi besar adalah sorgum. Tanaman ini mampu tumbuh di lahan marginal dengan tingkat kesuburan rendah sehingga tidak bersaing dengan lahan pertanian padi.

“Selain itu, tren global terhadap produk bebas gluten (gluten free product) membuka peluang besar bagi pengembangan sorgum sebagai alternatif bahan pangan lokal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap gandum impor,” ucapnya.

Tak hanya soal serealia, Prof. Erni juga menaruh perhatian terhadap keberlangsungan makanan tradisional Indonesia. Sebagai negara dengan lebih dari 1.300 kelompok etnis, Indonesia memiliki ribuan jenis makanan tradisional yang menjadi bagian penting dari warisan budaya bangsa.

Namun, perkembangan zaman membuat sebagian generasi muda lebih akrab dengan makanan modern dan produk internasional dibandingkan kuliner tradisional.

Kondisi ini berpotensi menimbulkan fenomena lost generation, yaitu ketika generasi muda hanya mengenal nama makanan tradisional tanpa pernah mencicipi atau mengetahui cara pembuatannya.

“Makanan tradisional seperti nagasari yang membutuhkan proses pembuatan cukup panjang, mulai dari menyiapkan bahan, mengolah adonan, membungkus dengan daun pisang hingga proses pengukusan. Kompleksitas tersebut menjadi salah satu alasan mengapa generasi muda semakin jarang membuat makanan tradisional secara mandiri,” ujarnya.

“Jika generasi yang memiliki keterampilan membuat makanan tradisional sudah tidak ada, lalu siapa yang akan meneruskannya? Ini menjadi tantangan besar bagi kita semua,” imbuh Prof. Erni.

Meski demikian, Prof. Erni menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah. Menurutnya, pelestarian makanan tradisional harus dilakukan melalui inovasi dan modernisasi produk tanpa menghilangkan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

“Makanan tradisional perlu dikemas dengan tampilan yang lebih menarik, memiliki nilai tambah dari sisi kesehatan, serta dipromosikan dengan pendekatan yang relevan dengan gaya hidup generasi masa kini,” tandasnya.

Melalui Model SOPIA, Prof. Erni berharap pengembangan serealia lokal dan revitalisasi makanan tradisional dapat berjalan beriringan sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus menjaga keberlanjutan warisan kuliner Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....