Kopi Malang Menggeliat, Arcofest Jadi Nadi Ekonomi Baru

  • 30 Okt 2025 18:42 WIB
  •  Malang

KBRN, Malang: Aroma kopi kembali menyeruak dari jantung Kota Malang. Setelah lima tahun terhenti, Artcofest 2025 festival kopi, seni, dan budaya garapan Bank Indonesia (BI) Malang hadir bak suntikan semangat baru bagi ekosistem kopi lokal. Di balik cangkir-cangkir hangat yang diseduh, tersimpan harapan besar menghidupkan ekonomi dari akar rumput.

“Ketika coffeeshop ramai, itu tandanya ekonomi berputar,” ujar Hendy, pemilik Vosco Coffee, di sela Media Briefing Artcofest dan MFW 2025 di Ombe Kofie Araya, Kamis (30/10/2025).

Ia menilai Arcofest bukan sekadar festival, melainkan ruang temu yang mempertautkan petani, barista, roaster, hingga pelaku industri kreatif dalam satu rantai ekonomi yang utuh.

Kopi kini bukan hanya soal cita rasa. Ia sudah menjelma identitas dan daya hidup ekonomi. Di Malang, geliat itu mulai terasa sejak tren kafe menjamur di berbagai sudut kota. Namun, bagi para pelaku kopi, lonjakan konsumsi saja tak cukup tanpa infrastruktur penopang yang kuat.

“Banyak coffeeshop, tapi wadah untuk tumbuh itu belum ada. Arcofest bisa jadi nyawa baru untuk kita semua,” tutur Dimas seorang praktisi barista muda.

Festival yang akan digelar pada 3 November itu dirancang tak hanya untuk pameran produk, tetapi juga menjadi ruang transaksi, diskusi, dan edukasi. Di sana, petani bisa langsung bertemu pembeli, barista belajar dari roaster, dan pengunjung merasakan pengalaman budaya yang berpadu dengan aroma kopi lokal.

“Selama ini saya iri dengan Bali. Mereka bangga menyajikan kopi Bali. Saya ingin kedai-kedai di Malang juga bangga menampilkan Kopi Malang,” ujar Sivaraja salah satu penggagas acara.

Ia percaya, kopi lokal bisa menjadi ikon wisata baru. Ketika wisatawan datang dan menyukai kopi Malang, peluang ekspor dan pariwisata ikut tumbuh.

Dari sisi petani, Arcofest juga memberi harapan baru untuk meningkatkan kapasitas dan daya tawar. Gentak Raja, perwakilan petani kopi, menyebut pentingnya akses pengetahuan dan pendampingan.

“Kalau tidak ada dana, setidaknya ada ilmu. Kami ingin belajar, karena selama ini jalan sendiri-sendiri,” ujarnya.

Dimas, penggagas utama Arcofest, menambahkan bahwa festival ini bukan sekadar ajang seremonial.

“Kopi adalah rantai ekonomi yang hidup. Efeknya bisa ke mana-mana industri kemasan, pariwisata, hingga ekonomi kreatif,” katanya.

Arcofest pun diharapkan menjadi wajah baru ekonomi Malang yang tumbuh dari kearifan lokal. Dari setiap butir kopi yang diseduh, lahir harapan untuk mengangkat petani, memperkuat pelaku usaha kecil, dan menjadikan kopi Malang sebagai kebanggaan bersama.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....