Stigma Harus Kuat Bikin Laki-Laki Sulit Bercerita

  • 16 Sep 2026 16:24 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang– Laki-laki kerap dibesarkan dengan anggapan harus kuat, tahan menghadapi masalah, dan tidak mudah menunjukkan kesedihan. Pandangan tersebut membuat sebagian laki-laki merasa perlu menyembunyikan emosi dan memilih memendam persoalan yang sedang dihadapi.

Kabid Program dan Operasional Indonesia Sehat Jiwa, Christo Tulung, mengatakan stigma tersebut masih menjadi tantangan dalam membangun kesadaran kesehatan jiwa di masyarakat. Menurutnya, laki-laki juga membutuhkan ruang untuk menyampaikan apa yang dirasakan tanpa takut dianggap lemah.

Hal tersebut disampaikan Christo dalam program Jaga Malam Pro 2 RRI Malang, Selasa (15/9/2026).

Christo menjelaskan, pola tersebut dapat terbentuk sejak seseorang masih kecil. Laki-laki sering kali mendapat pesan bahwa menangis, mengeluh, atau menunjukkan rasa takut merupakan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan.

“Sejak kecil kan laki-laki diindoktrinasi dengan ungkapan seperti gak boleh nangis, harus tahan banting, gak boleh cengeng,” ujar Christo.

Menurut Christo, pesan yang terus diterima tersebut dapat memengaruhi cara laki-laki menghadapi persoalan ketika dewasa. Ketika sedang sedih, kecewa, takut, atau mengalami tekanan, mereka bisa merasa harus tetap terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain.

Kondisi tersebut juga berkaitan dengan apa yang dikenal sebagai toxic masculinity, yaitu pandangan atau tuntutan mengenai bagaimana laki-laki seharusnya bersikap yang dapat membatasi seseorang dalam mengekspresikan emosi.

“Memang ada fenomena yang kita tahu namanya toxic masculinity,” katanya.

Untuk membuka ruang komunikasi yang lebih sehat, Indonesia Sehat Jiwa mengkampanyekan “Lelaki Harus Bercerita”. Kampanye ini mendorong laki-laki agar tidak ragu membagikan cerita dan mencari dukungan ketika menghadapi persoalan.

Christo menilai, bercerita tidak harus selalu dimaknai sebagai tanda seseorang sedang mengalami masalah berat. Berbagi cerita dengan orang yang dipercaya juga dapat menjadi cara untuk mengekspresikan perasaan dan mendapatkan perspektif dari orang lain.

Ia juga menekankan bahwa kebutuhan untuk mengekspresikan emosi tidak terbatas pada gender tertentu. Menangis, merasa sedih, takut, maupun membutuhkan tempat untuk bercerita merupakan pengalaman yang dapat dialami setiap orang.

“Cerita, curhat, nangis, sedih, itu ya semua gender sama. Kita mengungkapkan ekspresinya tanpa dihakimi,” ujarnya.

Menurutnya, lingkungan memiliki peran penting dalam mengubah stigma tersebut. Keluarga, teman, maupun lingkungan sosial perlu membangun kebiasaan mendengarkan tanpa langsung memberikan penilaian ketika seseorang memilih untuk bercerita.

Christo menambahkan, generasi muda saat ini mulai semakin terbuka membicarakan kesehatan mental. Namun, keterbukaan tersebut tetap perlu diikuti dengan pemahaman bahwa meminta bantuan bukanlah bentuk kegagalan atau kelemahan.

Apabila persoalan yang dihadapi mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk pola tidur, pola makan, maupun kemampuan menjalankan kegiatan, seseorang dapat mencari dukungan dan mempertimbangkan konsultasi dengan tenaga profesional.

Melalui kampanye “Lelaki Harus Bercerita”, Christo berharap semakin banyak laki-laki memiliki keberanian untuk membicarakan apa yang dirasakan. Menurutnya, menjadi kuat tidak harus berarti selalu menyimpan persoalan seorang diri.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....