Bahaya NAPZA, Picu Halusinasi hingga Depresi
- 13 Mei 2026 14:02 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA) tidak hanya merusak kesehatan fisik, tetapi juga berdampak serius terhadap kondisi mental seseorang.
Psikiater Subspesialis Adiksi RS Radjiman Wediodiningrat Lawang, dr. Nur Aida, Sp.KJ(K), mengungkapkan pengguna zat adiktif dapat mengalami gangguan psikis mulai dari kecemasan, depresi, agresivitas, hingga halusinasi.
“Ketika efek zat mulai turun atau terjadi withdrawal, pengguna bisa menjadi sangat mudah marah, agresif, cemas, bahkan mengalami gangguan psikotik,” katanya dalam Program Dialog SANKSI Pro 1 RRI Malang, Rabu (13/5/2026)
Withdrawal atau gejala putus zat terjadi ketika tubuh yang sudah terbiasa menerima zat tertentu tidak lagi mendapat asupan tersebut.
“Pengguna bisa berkeringat dingin, dada berdebar, sulit tidur, mudah tersinggung, sampai muncul dorongan kuat untuk memakai lagi,” jelas dr. Aida.
Ia mengatakan, pada tahap tertentu pengguna dapat mengalami halusinasi visual maupun pendengaran.
“Ada yang merasa diikuti seseorang, melihat bayangan, atau mendengar bisikan yang menyuruh menyakiti diri sendiri,” ujarnya.
Kondisi tersebut sering membuat pengguna tampak seperti penderita gangguan mental berat.
“Kadang muncul waham curiga, merasa dikejar polisi, atau keyakinan yang tidak sesuai realitas,” tambahnya.
Menurut dr. Aida, kondisi itu berkaitan dengan sistem reward di otak.
Saat pertama menggunakan zat, pengguna merasakan efek nyaman dan senang sehingga otak merekam pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang menyenangkan.
“Awalnya disebut reinforcement positif karena pengguna merasa nyaman. Tetapi lama-lama berubah menjadi reinforcement negatif karena dia memakai untuk menghindari rasa tidak nyaman akibat putus zat,” terangnya.
Ia mencontohkan penggunaan zat stimulan seperti metamfetamin atau sabu yang membuat pengguna tetap terjaga dan merasa lebih fokus.
Namun ketika efeknya habis, pengguna bisa mengalami kelelahan berat, emosi tidak stabil, hingga depresi.
Dr. Aida juga mengingatkan bahaya penyalahgunaan obat-obatan tertentu yang sebenarnya bukan narkotika, seperti dextromethorphan maupun obat penenang.
“Kadang ada yang minum satu strip obat sekaligus untuk mencari efek tertentu. Padahal tubuh punya batas kemampuan memetabolisme obat,” katanya.
Ia menjelaskan, setiap obat memiliki therapeutic window atau rentang dosis aman.
“Kalau dosis terlalu tinggi, tubuh bisa mendekati lethal dose atau dosis mematikan,” jelasnya.
Dalam beberapa kasus, pasien datang dengan kondisi halusinasi berat akibat mengonsumsi puluhan tablet obat yang dicampur zat lain.
Beruntung, sebagian masih dapat ditangani karena tanda vital pasien stabil.
Dr. Aida menegaskan bahwa adiksi merupakan penyakit kronis yang dapat kambuh sewaktu-waktu sehingga membutuhkan penanganan jangka panjang.
“NAPZA itu chronic relapsing disease. Pemulihan tidak cukup hanya detoksifikasi, tetapi juga perlu dukungan keluarga, lingkungan, terapi psikologis, dan penguatan spiritual,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk segera mencari bantuan profesional jika menemukan anggota keluarga mengalami tanda-tanda penyalahgunaan zat.
“Semakin cepat ditangani, peluang pemulihan akan lebih baik,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....