TBC di Indonesia Tinggi akibat Stigma dan Kemiskinan

  • 20 Apr 2026 12:16 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Tuberkulosis (TBC) masih menjadi persoalan kesehatan serius di Indonesia. Berdasarkan Global TB Report 2024, Indonesia menempati posisi kedua dunia setelah India dengan estimasi lebih dari satu juta kasus baru setiap tahun dan sekitar 134 ribu kematian.

Dokter Spesialis Paru Hermina Hospitals, dr. Siti Juhariyah, Sp.P(K), menilai tingginya angka tersebut tidak lepas dari berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari stigma sosial hingga kondisi ekonomi masyarakat.

Menurutnya, stigma terhadap penderita TBC masih kuat di tengah masyarakat. Tidak sedikit pasien yang merasa dikucilkan atau bahkan takut diketahui penyakitnya. Akibatnya, mereka enggan memeriksakan diri sejak dini atau tidak melanjutkan pengobatan hingga tuntas.

“Masih ada anggapan bahwa TBC itu penyakit keturunan, bahkan dikaitkan dengan hal-hal mistis. Padahal ini penyakit menular yang bisa disembuhkan,” jelasnya, Senin (20/4/2026)

Di sisi lain, faktor kemiskinan juga turut berkontribusi. Lingkungan padat penduduk dengan ventilasi yang buruk menjadi tempat ideal bagi penularan kuman TBC. Kondisi tersebut diperparah dengan rendahnya kesadaran untuk menjalani pengobatan secara disiplin.

Ia menambahkan, banyak pasien yang menghentikan pengobatan setelah dua bulan karena merasa gejalanya sudah hilang. Padahal, pengobatan TBC membutuhkan waktu minimal enam bulan untuk memastikan kuman benar-benar mati.

Jika tidak diselesaikan, kondisi ini justru berisiko menimbulkan TBC resisten obat yang lebih sulit diobati. Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong gerakan “Temukan, Obati, Sampai Sembuh” sebagai upaya memutus rantai penularan.

“Selama pengobatan tidak tuntas, penularan akan terus terjadi. Ini yang harus kita putus bersama,” tegas dr. Siti.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....