Psikolog: Jangan Buru-buru Minta Orang Berduka untuk Ikhlas
- 15 Sep 2026 14:49 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang — Masyarakat diingatkan untuk tidak terburu-buru meminta seseorang yang sedang berduka agar segera mengikhlaskan kehilangan yang dialaminya. Psikolog Ayaturrahman Abdul Malik Cholis, M.Psi., mengatakan orang yang berduka sebenarnya telah memahami bahwa orang yang meninggal tidak akan kembali, tetapi tetap membutuhkan ruang untuk memproses kehilangan tersebut.
Menurut Malik, persoalan dalam proses berduka bukan sekadar mengetahui bahwa seseorang harus menerima kenyataan. Hal yang lebih penting adalah bagaimana seseorang memandang dan memberikan makna terhadap kehilangan yang sedang dialaminya.
“Orang itu boleh kok berduka," kata Malik saat dikonfirmasi RRI, Selasa (15/9/2026).
Karena itu, respons lingkungan terhadap orang yang sedang berduka sebaiknya tidak langsung berupa nasihat atau tuntutan agar segera kuat. Kehadiran orang lain dapat lebih berarti apabila diwujudkan dengan mendengarkan dan memberi kesempatan kepada orang tersebut untuk mengungkapkan perasaannya.
Malik mengatakan pertanyaan sederhana mengenai perasaan dapat menjadi bentuk dukungan yang lebih tepat dibandingkan langsung memberikan penilaian terhadap cara seseorang menghadapi musibah. Menurutnya, setiap orang memiliki proses berduka yang berbeda sehingga tidak bisa dipaksakan mengikuti ukuran orang lain.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat berhati-hati ketika menggali cerita dari seseorang yang sedang mengalami musibah. Sebelum menanyakan hal yang bersifat pribadi, seseorang sebaiknya meminta izin dan memberikan ruang apabila orang tersebut belum siap bercerita.
“Boleh tanya enggak soal ini, soal kejadian ini, soal musibahmu," ujar Malik mencontohkan.
Menurut Malik, sikap tersebut merupakan bagian dari empati karena seseorang berusaha memahami kondisi orang lain dari sudut pandang mereka. Empati bukan berarti memaksakan diri mengetahui seluruh cerita, melainkan memberikan kesempatan kepada orang yang sedang berduka untuk menentukan apa yang ingin disampaikan.
“Empati itu kita mendudukkan diri dalam posisi dia," katanya.
Ia menambahkan, berduka merupakan respons manusiawi yang tidak hanya dialami masyarakat umum, tetapi juga dapat dialami oleh seorang psikolog. Karena itu, seorang profesional pun tetap memiliki emosi dan membutuhkan proses ketika menghadapi kehilangan orang yang dianggap penting dalam hidupnya.
Dalam kondisi tersebut, nasihat seperti meminta seseorang segera ikhlas dapat berisiko membuat perasaan yang sedang dialami justru tidak mendapatkan ruang. Masyarakat sebaiknya memahami bahwa menerima kenyataan kehilangan dan selesai memproses emosi akibat kehilangan merupakan dua hal yang berbeda.
"Memberikan ruang untuk merasakan kesedihan bukan berarti membiarkan seseorang terus terjebak dalam kesedihan. Dukungan yang tepat justru dapat membantu seseorang mengenali perasaannya, memahami kehilangan yang dialami, dan secara bertahap kembali menjalankan kehidupan sehari-hari," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....