ketika Anak Berbeda, Kapan Orang Tua Perlu Khawatir?

  • 21 Agt 2026 14:51 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang — Setiap anak memiliki pola tumbuh kembang yang berbeda. Ada yang lebih cepat berbicara, lebih aktif, lebih pendiam, atau memiliki cara bermain yang tidak sama dengan anak seusianya. Perbedaan tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari variasi perkembangan yang normal.

"Namun, orang tua tetap perlu memahami kapan perbedaan tersebut perlu mendapat perhatian lebih," kata Psikolog Jeanne Leonardo S.Psi., MA/Mgr, SEN, dalam obrolan Psikologi pada Kamis (20/8/2026).

Jeanne mengatakan, orang tua tidak perlu terburu-buru membandingkan kemampuan anak dengan anak lainnya. Hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah apakah perbedaan tersebut mulai mengganggu fungsi dan perkembangan anak.

Menurutnya, ada sejumlah tanda yang dapat menjadi perhatian orang tua. Pertama, ketika kemampuan yang seharusnya mulai muncul pada usia tertentu belum terlihat. Misalnya, anak pada usia tertentu belum menunjukkan kemampuan komunikasi yang sesuai dengan tahap perkembangannya.

Kedua, orang tua perlu waspada ketika kemampuan yang sebelumnya sudah dimiliki anak justru menghilang. Contohnya, anak yang sebelumnya sudah mampu mengucapkan beberapa kata kemudian secara bertahap tidak lagi menggunakannya.

“Yang perlu kita khawatirkan bukan sekadar anak berbeda, tetapi apakah perbedaan itu mengganggu fungsi dan perkembangan anak,” jelas Jeanne.

Tanda berikutnya adalah ketika kesulitan yang dialami anak bersifat menetap. Jika anak sudah mendapatkan stimulasi dan kesempatan belajar secara berulang tetapi kesulitan tersebut tetap muncul dalam jangka waktu yang cukup panjang, orang tua disarankan untuk melakukan evaluasi lebih lanjut.

Selain itu, kondisi yang mulai mengganggu fungsi keseharian juga perlu diperhatikan. Misalnya, perilaku anak membuatnya kesulitan mengikuti kegiatan di sekolah, berinteraksi dengan orang lain, menyelesaikan tugas, atau bahkan membahayakan dirinya sendiri.

"Pengamatan juga perlu dilakukan di lebih dari satu lingkungan, seperti rumah dan sekolah, agar orang tua mendapatkan gambaran yang lebih utuh," ungkapnya.

Jeanne mengingatkan orang tua agar tidak terburu-buru memberikan label seperti “pemalu”, “malas”, “manja”, atau “hiperaktif”. Label tersebut dapat memengaruhi cara lingkungan memperlakukan anak dan pada akhirnya justru membentuk perilaku anak sesuai label yang diberikan.

Ia juga menekankan pentingnya memahami tugas perkembangan anak sesuai usianya. Orang tua perlu belajar mengenai perkembangan fisik, motorik, bahasa, emosi, sosial, hingga kemampuan belajar anak.

"Jika ditemukan kesenjangan perkembangan yang cukup jauh atau kesulitan yang menetap dan mengganggu fungsi anak, orang tua dapat berkonsultasi dengan tenaga profesional, seperti dokter tumbuh kembang anak, psikolog anak, maupun tenaga ahli terkait," jelasnya.

Jeanne menegaskan, orang tua sebaiknya tidak terlalu panik, tetapi juga tidak mengabaikan tanda-tanda yang muncul. Setiap anak memiliki jalur tumbuh kembangnya masing-masing sehingga perbedaan merupakan hal yang wajar selama tidak mengganggu fungsi dan perkembangannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....