Psikolog: Sehat Mental Bukan Berarti Selalu Bahagia
- 15 Sep 2026 14:49 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang — Sehat mental tidak berarti seseorang harus selalu merasa bahagia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Psikolog Ayaturrahman Abdul Malik Cholis, M.Psi., mengatakan kondisi kesehatan mental lebih tepat dilihat dari kemampuan seseorang menjalankan fungsi kehidupannya dengan baik.
Menurut Malik, kesehatan mental bukan kondisi yang hanya terbagi menjadi sehat atau tidak sehat, melainkan berada dalam sebuah spektrum. Karena itu, seseorang tetap dapat mengalami kesedihan, kemarahan, kecemasan, maupun tekanan tanpa otomatis mengalami gangguan kesehatan mental.
“Kalau kita bicara bahagia itu apakah menentukan kita sehat atau enggak, sebetulnya enggak juga," ujarnya saat dikonfirmasi RRI pada Selasa (15/9/2026).
Malik menjelaskan, kebahagiaan merupakan salah satu bentuk emosi atau kondisi perasaan yang dialami manusia, sehingga tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran kesehatan mental. Sementara itu, kesehatan mental berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk tetap berfungsi dalam pekerjaan, pendidikan, hubungan sosial, maupun aktivitas yang memberikan makna bagi dirinya.
“Yang disebut sehat mental itu adalah ketika kita bisa berfungsi dengan baik," tegasnya.
Ia mencontohkan seseorang yang sedang mengalami kehilangan dapat merasa sedih, tetapi tetap mampu menjalankan aktivitas sehari-hari dan berinteraksi dengan lingkungan. Kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya gangguan mental karena kesedihan merupakan respons yang wajar terhadap sebuah peristiwa.
Menurut Malik, tanda yang perlu diperhatikan justru ketika perubahan kondisi seseorang mulai mengganggu fungsi kehidupannya secara signifikan. Perubahan tersebut dapat terlihat dari penurunan kinerja di sekolah atau tempat kerja, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga kesulitan melakukan perawatan diri yang sebelumnya biasa dilakukan.
“Kesehatan mental itu lebih luas daripada sekadar perasaan kita saat ini," katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah memberikan label terhadap seseorang hanya berdasarkan perilaku yang terlihat dari luar. Tidak mandi sehari, misalnya, tidak dapat langsung disimpulkan sebagai tanda gangguan mental karena perlu dilihat konteks dan perubahan perilaku secara keseluruhan.
Malik menambahkan, setiap emosi sebenarnya memiliki fungsi bagi manusia, termasuk emosi yang sering dianggap negatif. Rasa takut dapat menjadi mekanisme perlindungan, kemarahan dapat muncul ketika seseorang merasa wilayah atau batas dirinya terganggu, sedangkan kesedihan membantu seseorang menghadapi kehilangan.
Karena itu, upaya untuk selalu terlihat bahagia justru tidak selalu menjadi pilihan yang sehat apabila dilakukan dengan menekan emosi. Menurut Malik, emosi perlu dikenali dan dihadapi agar seseorang dapat memahami kondisi dirinya serta menentukan langkah yang tepat.
“Bahagia, sedih, marah, dan semua itu bukan sesuatu yang harus ditolak, tapi sesuatu yang harus dihadapi," urainya.
Malik menegaskan, seseorang tidak harus merasa bahagia setiap saat untuk dapat disebut sehat secara mental. Yang penting adalah mampu mengenali emosi, memprosesnya, serta tetap menjaga fungsi kehidupan sehari-hari agar tidak terganggu secara berkepanjangan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....