Laki-Laki Lebih Sulit Curhat, Stigma “Harus Kuat” Jadi Salah Satu Tantangan
- 02 Sep 2026 10:35 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Anggapan bahwa laki-laki harus selalu kuat dan tidak boleh menunjukkan kesedihan dinilai masih menjadi salah satu tantangan dalam upaya meningkatkan kesadaran kesehatan mental. Konstruksi sosial yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dapat membuat laki-laki lebih sulit mengakui ketika sedang menghadapi masalah dan mencari bantuan.
Founder sekaligus Ketua Indonesia Sehat Jiwa, Sofia Ambarini S.Kom., MM, mengatakan persoalan tersebut tidak muncul begitu saja ketika seseorang telah dewasa. Menurutnya, pola pengasuhan dan lingkungan sosial sejak kecil turut membentuk cara laki-laki dalam mengekspresikan emosi serta menghadapi persoalan.
Hal tersebut disampaikan Sofia dalam program Jaga Malam Mental Health Pro 2 RRI Malang, Selasa (1/9/2026), dengan tema “Mengapa Laki-Laki Sulit Curhat dan Lebih Rentan Bunuh Diri?”.
| Baca juga: Down Syndrome Bukan Batas Berkarya |
Sofia menjelaskan, sejak kecil laki-laki sering mendapatkan pesan bahwa mereka harus kuat dan tidak boleh menangis. Pesan tersebut kemudian dapat berkembang menjadi stigma bahwa meminta bantuan atau menceritakan masalah merupakan tanda kelemahan.
“Kalau saya sampai curhat, berarti saya lemah, saya malu, saya nanti jadi beban orang lain,” ujar Sofia saat menggambarkan pola pikir yang dapat muncul pada laki-laki ketika menghadapi persoalan.
Menurutnya, kondisi tersebut kemudian berpengaruh terhadap perilaku laki-laki dalam mencari pertolongan. Ketika seseorang merasa harus menyelesaikan semua persoalan seorang diri, kesempatan untuk mendapatkan dukungan lebih awal juga dapat semakin kecil.
Sofia menilai persoalan kesehatan mental pada laki-laki juga berkaitan dengan keterbatasan literasi emosional. Tidak semua laki-laki terbiasa mengenali dan menyebutkan emosi yang sedang mereka rasakan. Akibatnya, ketika mengalami tekanan, mereka belum tentu mengetahui bagaimana cara membicarakannya kepada orang lain.
Selain stigma mengenai maskulinitas, tuntutan sosial terhadap laki-laki juga dinilai semakin beragam. Laki-laki kerap dianggap harus mampu memenuhi berbagai ekspektasi, mulai dari persoalan karier hingga tanggung jawab keluarga.
Di tengah kondisi tersebut, Sofia mendorong perubahan cara pandang terhadap laki-laki dan kesehatan mental. Menurutnya, laki-laki perlu memiliki ruang yang aman untuk bercerita tanpa takut dianggap lemah ataupun menjadi beban bagi orang lain.
Ia menegaskan, membicarakan persoalan yang sedang dihadapi bukan berarti seseorang kehilangan kekuatan. Sebaliknya, keterbukaan dapat menjadi salah satu langkah untuk membuat seseorang mendapatkan dukungan yang sesuai.
Melalui Indonesia Sehat Jiwa, Sofia dan tim juga mendorong pendekatan berbasis komunitas dan peer support. Pendamping sebaya dilatih dan berada dalam pengawasan tenaga profesional sehingga dapat membantu seseorang terhubung dengan bantuan yang lebih tepat ketika diperlukan.
Sofia berharap masyarakat mulai meninggalkan anggapan bahwa persoalan kesehatan mental merupakan sesuatu yang memalukan. Menurutnya, menciptakan lingkungan yang memungkinkan laki-laki untuk bercerita menjadi bagian penting dari upaya membangun masyarakat yang lebih peduli terhadap kesehatan mental.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....