Bukan Sekadar Marah: Kenali Tanda Dini Perilaku Agresif

  • 20 Agt 2026 17:23 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Mudah marah, gampang tersinggung, terlalu curiga, suka mendominasi, hingga menarik diri dari lingkungan sering kali dianggap sekadar karakter seseorang. Namun, perubahan perilaku yang semakin ekstrem tidak seharusnya selalu dianggap sepele.

Perawat RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat, Yudi Hartono, mengatakan terdapat sejumlah tanda yang dapat menjadi sinyal awal adanya persoalan kesehatan mental yang membutuhkan perhatian profesional.

Dalam dialog Program 1 RRI Malang bertema “Homicide di Indonesia: Antara Gangguan Mental, Konflik dan Faktor Sosial”, Yudi menjelaskan bahwa masyarakat sering kali baru menyadari adanya gangguan ketika kondisi seseorang sudah berat. Padahal, sejumlah perubahan perilaku sebenarnya dapat dikenali lebih awal.

Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah sifat mudah tersinggung atau iritabel. Seseorang yang gampang marah, mudah meledak karena persoalan kecil, atau sangat sensitif terhadap perkataan orang lain perlu mendapat perhatian, terutama jika perilaku tersebut merupakan perubahan dari kondisi sebelumnya.

“Ada karakter seseorang itu yang pendiam, tertutup, iritabel, gampang marah, gampang tersinggung. Nah itu sebenarnya tanda dini,” ujarnya, Kamis (20/8/2026)

Selain mudah marah, kecenderungan mendominasi juga perlu diperhatikan. Misalnya, seseorang selalu ingin menjadi pihak yang paling benar, tidak mau mengalah, atau merasa dirinya harus selalu menjadi yang utama.

Kecurigaan berlebihan juga menjadi salah satu tanda yang disebut dalam dialog. Seseorang dapat merasa pembicaraan orang lain selalu ditujukan kepadanya atau menganggap dirinya sedang dibicarakan, meskipun belum tentu demikian.

Pada kondisi yang berkaitan dengan skizofrenia, perubahan perilaku dapat terlihat dalam bentuk yang berbeda. Yudi menyebut sejumlah tanda seperti tidak lagi memperhatikan perawatan diri, tidak mau mandi, tidak mau berganti pakaian, semakin sering menyendiri, berbicara sendiri, atau enggan berinteraksi dengan orang lain.

Tanda-tanda tersebut tidak berarti seseorang otomatis akan melakukan kekerasan atau pembunuhan. Yang penting adalah mengenali perubahan perilaku dan mencari bantuan profesional sebelum kondisinya berkembang lebih jauh.

Keluarga memiliki posisi penting karena menjadi pihak yang paling sering berinteraksi dengan seseorang dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika seseorang mengalami perubahan perilaku yang ekstrem dan mulai membahayakan dirinya maupun orang lain, Yudi menyarankan agar keluarga segera berkonsultasi kepada tenaga profesional, terutama psikiater.

Informasi yang diberikan keluarga juga harus lengkap, mulai dari kapan perubahan perilaku muncul hingga kapan kondisi mencapai tingkat paling berat. Informasi tersebut membantu tenaga profesional menentukan penanganan yang sesuai.

“Jadi informasi yang tepat, informasi yang akurat dari keluarga itu penting sekali. Jadi mulai tanda-tandanya ekstremnya kapan, yang paling berat kapan itu harus diutarakan semuanya ke psikiater sehingga obatnya tepat,” ungkapnya.

Penanganan juga tidak seharusnya dilakukan dengan cara yang justru memperburuk kondisi pasien. Dalam dialog tersebut, sempat dibahas praktik pemasungan yang masih dapat terjadi ketika keluarga menghadapi anggota keluarga dengan gangguan jiwa dan perilaku ekstrem.

Membawa anggota keluarga kepada tenaga profesional dinilai lebih tepat agar pasien memperoleh asesmen dan penanganan yang sesuai.

Persoalan kesehatan mental sering terlambat ditangani karena gejala awal dianggap sebagai sifat buruk, kenakalan, atau sekadar perubahan suasana hati.

Padahal, menurut Yudi, terdapat periode yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan intervensi lebih awal. Ketika keluarga menemukan perilaku yang tidak biasa, konsultasi kepada psikolog atau psikiater dapat dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih berat.

Pengalaman kekerasan dalam keluarga juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kekerasan berpotensi merekam perilaku tersebut. Ketika dewasa dan menghadapi tekanan, pola yang pernah dilihat dan dialaminya dapat muncul kembali sebagai cara menyelesaikan persoalan.

Yudi mengingatkan bahwa konflik dan persoalan tidak sebaiknya terus dipendam tanpa penyelesaian.

“Jadi sebisa mungkin hal-hal yang sepele, misalnya konflik-konflik itu segera diselesaikan. Jadi enggak harus dipendam. Nah, suatu saat kalau dipendam itu pasti akan meletak,” ucapnya.

Karena itu, mengenali tanda dini bukan berarti memberikan label atau stigma kepada seseorang. Sebaliknya, deteksi dini menjadi upaya untuk mendapatkan pertolongan yang tepat sebelum masalah berkembang menjadi lebih berat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....