Psikolog: Batas Kerja dan Kehidupan Pribadi Makin Tipis di Era Digital

  • 08 Sep 2026 17:37 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang — Perkembangan teknologi membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin tipis. Psikolog Lukman Hakim M.Psi menilai kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam menjaga work life balance, terutama bagi pekerja yang tidak terikat jam kantor.

Lukman menjelaskan, telepon pintar membuat pekerjaan dapat masuk ke ruang pribadi kapan saja. Pesan WhatsApp, email, hingga grup kerja memungkinkan seseorang tetap menerima tuntutan pekerjaan meskipun sudah berada di rumah.

"Pekerjaan mudah yang semakin modern ini kita bisa kerja di mana saja itu adalah bibit ketidakseimbangan hidup masyarakat saat ini," kata Lukman ketika dikonfirmasi RRI, Selasa (8/9/2026).

Menurutnya, pola kerja modern membuat seseorang terkadang kesulitan menentukan kapan harus bekerja dan kapan waktunya berhenti. Kondisi tersebut berbeda dengan pola kerja sebelumnya yang memiliki batas lebih jelas antara jam kantor dan waktu setelah pulang kerja.

"Jadi kita nggak tahu waktunya kita kerja kapan, nggak kerja kapan," ujarnya.

Lukman mengatakan, pekerja yang memiliki jam operasional tidak menentu perlu membuat kesepakatan dengan orang-orang terdekat. Keluarga perlu mengetahui waktu ketika seseorang harus bekerja sekaligus memahami kapan dirinya dapat memberikan perhatian penuh.

Ia menilai batas tersebut penting agar pekerjaan tidak terus-menerus memotong waktu bersama keluarga. Kehadiran secara fisik di rumah juga perlu disertai kehadiran secara emosional ketika seseorang sedang bersama pasangan maupun anak.

"Perlu ada komunikasi agar anak dan istri itu memahami jam kerjanya seperti apa, apakah bisa diganggu atau tidak," katanya.

Menurut Lukman, seseorang juga perlu menentukan momen tertentu ketika dirinya dapat benar-benar fokus kepada keluarga. Kesepakatan tersebut dapat membantu mengurangi konflik ketika tuntutan pekerjaan muncul di tengah waktu bersama keluarga.

Ia menambahkan, work life balance tidak hanya menjadi tanggung jawab pekerja. Perusahaan dan lingkungan kerja juga perlu mempertimbangkan kehidupan pribadi karyawan agar tuntutan pekerjaan tidak mengorbankan seluruh ruang kehidupan mereka.

"Jangan suatu kantor, suatu instansi, suatu perusahaan itu hanya memeras tenaganya saja tapi tidak memikirkan kehidupan pribadi seseorang," ujarnya.

Lukman juga menyarankan pekerja yang merasa kehidupannya mulai tidak seimbang untuk kembali mengaktifkan peran di luar pekerjaan. Aktivitas seperti menjalankan hobi, berinteraksi dengan tetangga, mengikuti kegiatan sosial maupun keagamaan dapat membantu mengurangi ketegangan pikiran.

Ia menegaskan, tujuan bekerja pada akhirnya adalah mencapai kesejahteraan fisik dan psikis. Karena itu, seseorang perlu memastikan pekerjaan tetap menjadi bagian dari kehidupan, bukan mengambil seluruh ruang kehidupannya.

"Anda hidup bekerja itu untuk mencapai kesejahteraan, bukan hidup Anda untuk pekerjaan," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....