Work Life Balance Bukan Soal Membagi Waktu Sama Rata
- 08 Sep 2026 17:38 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang — Work life balance tidak selalu berarti membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi secara sama rata. Psikolog Lukman Hakim M.Psi menjelaskan, keseimbangan lebih berkaitan dengan kemampuan seseorang menjalankan berbagai peran dalam kehidupannya.
Menurut Lukman, seseorang tetap dapat memiliki work life balance meskipun tuntutan pekerjaannya cukup besar. Hal terpenting adalah pekerjaan dapat dijalankan dengan baik, sementara kebutuhan dan peran di luar pekerjaan tetap terpenuhi.
"Jadi ketika kita kajian terkait work life balance itu secara makna kan memang keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi," kata Lukman saat dikonfirmasi RRI pada Selasa (8/9/2026).
Ia menjelaskan, work life balance juga tidak dapat hanya diukur berdasarkan jumlah jam yang digunakan untuk bekerja. Perubahan pola kerja membuat banyak profesi tidak lagi terikat sepenuhnya pada jam kantor.
"Untuk kajian work life balance terutama di era modern saat ini itu tidak bisa diukur hanya waktu," ujarnya.
Lukman menambahkan, kondisi work life balance dapat mengalami perubahan sesuai fase kehidupan seseorang. Ada masa ketika pekerjaan membutuhkan perhatian lebih besar, namun pada waktu lain keluarga maupun kehidupan sosial juga membutuhkan kehadiran seseorang.
Ia menyebut salah satu indikator keseimbangan adalah kemampuan menjalankan berbagai peran secara baik. Selain sebagai pekerja, seseorang juga memiliki peran sebagai anggota keluarga maupun bagian dari lingkungan sosial.
"Orang yang sehat itu memiliki fungsi peran yang berbeda dan mampu menjalani peran berbeda tersebut," katanya.
Menurutnya, masalah muncul ketika seseorang terlalu terfokus pada satu peran hingga mengabaikan peran lainnya. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika seseorang terlalu berlebihan dalam pekerjaan dan melupakan keluarga maupun kehidupan sosial.
Lukman juga menekankan pentingnya profesionalitas dalam bekerja. Ketika pekerjaan dilakukan dengan baik dan target telah diselesaikan, seseorang perlu mampu memberikan batas terhadap tuntutan pekerjaan berikutnya.
"Target hari ini apa sudah saya lakukan? Jadi ketika saya sudah lakukan, saya akan melakukan lainnya besok," ujarnya.
Ia menilai kemampuan tersebut dapat membantu seseorang memiliki batas yang lebih sehat terhadap pekerjaan. Kinerja yang baik juga membuat seseorang lebih mudah membangun kepercayaan dengan atasan maupun rekan kerja.
Lukman mengingatkan, bekerja merupakan bagian dari upaya mencapai kesejahteraan hidup, bukan sebaliknya. Karena itu, keseimbangan perlu dilihat dari kemampuan seseorang menjalani pekerjaan sekaligus tetap hadir dalam berbagai peran kehidupannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....