Kasus Bunuh Diri, Fenomena Gunung Es yang Mengkhawatirkan

  • 18 Sep 2026 11:25 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Kasus bunuh diri disebut seperti fenomena gunung es karena angka tercatat belum menggambarkan seluruh persoalan masyarakat. WHO mencatat lebih dari 740.000 kematian akibat bunuh diri setiap tahun di seluruh dunia.

Untuk Indonesia, pada 2025 terdapat lebih dari 1.400 kasus yang tercatat dalam data kepolisian Indonesia resmi. Data tersebut mencatat kasus yang sudah terjadi, tidak termasuk orang dengan pikiran menyakiti diri mencari pertolongan melalui layanan kesehatan.

“Mereka yang mengalami keinginan mengakhiri hidup dapat mendatangi rumah sakit atau psikolog sehingga tidak tercatat kepolisian secara resmi. Kondisi itu membuat data resmi belum tentu menggambarkan keseluruhan kebutuhan pertolongan kesehatan jiwa yang terjadi di masyarakat luas saat ini,” kata Ns. Hardini R. Palupi, S. Kep - Perawat (Tim Prana Harsa) RS Radjiman Widiodiningrat Lawang, dalam dialog Kentongan di Pro 1 RRI Malang, Rabu (16/09/2026).

Persoalan ini menjadi perhatian pemerintah daerah Malang Raya, termasuk kawasan yang dikenal memiliki kejadian terkait sebelumnya. Salah satu lokasi itu adalah jembatan di kawasan Suhat, yang kemudian mendapat perhatian melalui langkah perlindungan pemerintah setempat secara langsung.

“Respon pemerintah kota dengan memasang pagar pengaman di kedua sisi jembatan sebagai upaya mencegah kejadian tersebut berulang sangatlah tepat. Langkah ini menjadi bagian dari pencegahan, sementara dukungan keluarga dan akses layanan kesehatan tetap diperlukan masyarakat secara berkelanjutan,” ujarnya.

Orang yang mengalami tekanan berat tidak selalu langsung menunjukkan kondisi yang mudah dikenali oleh lingkungan terdekat sehari-hari mereka. Perubahan perilaku, tekanan keluarga, persoalan ekonomi, hubungan sosial, hingga masalah akademik dapat menjadi beban yang dirasakan seseorang berkepanjangan dalam kehidupannya.

Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan perubahan perilaku dan membuka ruang percakapan tanpa menghakimi orang yang sedang mengalami kesulitan hidup lebih. Pendekatan ini bisa membantu keluarga, teman, dan lingkungan kerja mengenali tanda depresi, berani berbicara dan bijak bersikap, sehingga orang yang mengalami tekanan dapat memperoleh dukungan secara tepat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....