Dokter Spesialis Paru Ingatkan untuk Waspadai Hantavirus
- 18 Mei 2026 13:39 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap Hantavirus, penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan pengerat seperti tikus ke manusia. Meski bukan penyakit baru, hantavirus kembali menjadi perhatian setelah muncul varian baru yang memungkinkan penularan antar manusia.
Dokter Spesialis Penyakit Paru Konsultan Onkologi RSUD Karsa Husada Batu, dr. Deden Permana, Sp.P (K) Onk, menjelaskan Hantavirus sebenarnya sudah dikenal sejak tahun 1970-an dan pernah menjadi wabah di Korea.
“Hantavirus ini sebenarnya bukan penyakit baru. Bahkan Kementerian Kesehatan sudah mengeluarkan panduan penatalaksanaannya sejak 2023,” kata dr. Deden, Senin, 18 Mei 2026.
Ia mengatakan, Hantavirus awalnya dikenal sebagai penyakit zoonosis yang menular melalui tikus, terutama dari urine, kotoran, maupun air liur tikus yang mengering lalu terhirup manusia.
Namun, perhatian dunia kesehatan meningkat setelah ditemukan varian Andes virus yang memungkinkan terjadinya penularan antar manusia.
“Yang jadi perhatian adalah varian Andes ini ternyata memungkinkan transmisi antar manusia. Sebelumnya penularan antar manusia sangat jarang,” tuturnya.
Menurut dr. Deden, secara klinis Hantavirus terbagi menjadi dua jenis, yakni yang menyerang paru-paru dan yang menyerang ginjal. Hantavirus yang menyerang paru-paru memiliki tingkat kematian lebih tinggi.
“Kalau yang menyerang paru, angka kematiannya bisa mencapai 30 sampai 40 persen karena dapat menyebabkan gagal napas. Sedangkan yang menyerang ginjal sekitar 1 hingga 15 persen,” terangnya.
Ia menjelaskan, gejala awal hantavirus mirip dengan penyakit lain seperti demam berdarah, leptospirosis, atau pneumonia. Penderita biasanya mengalami demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, tubuh lemas, mual, hingga diare.
Jika menyerang paru-paru, kondisi dapat memburuk menjadi sesak napas dan penumpukan cairan di paru yang berujung gagal napas dalam waktu cepat.
“Kalau sudah jatuh ke kondisi berat, pasien bisa meninggal dalam 24 sampai 48 jam,” ujarnya.
Sementara pada hantavirus yang menyerang ginjal, penderita dapat mengalami penurunan produksi urine, perdarahan, hingga gangguan fungsi ginjal.
dr. Deden mengatakan hingga kini belum ada obat antivirus khusus untuk hantavirus. Penanganan medis lebih difokuskan pada terapi suportif sesuai kondisi pasien, seperti bantuan ventilator pada gagal napas atau cuci darah jika terjadi gagal ginjal.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah pencegahan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan mengendalikan populasi tikus.
“Jangan membersihkan kotoran tikus dengan cara disapu kering karena debunya bisa beterbangan dan terhirup. Sebaiknya dibasahi dulu dengan cairan disinfektan,” katanya.
Ia juga menyarankan masyarakat menggunakan sarung tangan dan masker saat membersihkan area yang diduga menjadi sarang tikus.
Meski demikian, dr. Deden meminta masyarakat tetap tenang dan tidak panik. Hingga saat ini, belum ditemukan kasus Hantavirus di Kota Batu.
“Waspada boleh, tetapi jangan panik. Yang penting menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan langkah pencegahan,” pesannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....