Gangguan Paru Kini Mulai Mengintai Usia Muda, Dokter RSSA Soroti Polusi hingga Vape
- 25 Jul 2026 10:42 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Menjaga kesehatan paru-paru tidak seharusnya menunggu usia lanjut. Justru sejak usia muda, setiap orang perlu mulai memperhatikan kesehatan organ pernapasan karena berbagai faktor risiko kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari polusi udara, asap rokok, hingga penggunaan rokok elektronik atau vape.
Dokter Spesialis Paru Divisi Paru Kerja dan Lingkungan RSUD dr. Saiful Anwar Malang, dr. Fitri Indah Sari, Sp.P(K), mengatakan anggapan bahwa penyakit paru hanya dialami lansia atau perokok berat sudah tidak lagi sepenuhnya benar. Saat ini, gangguan fungsi paru juga mulai ditemukan pada usia yang lebih muda akibat perubahan gaya hidup dan meningkatnya paparan polusi."Banyak or
ang berpikir penyakit paru hanya dialami usia lanjut atau perokok berat. Padahal sekarang kita mulai menemukan gangguan fungsi paru pada usia yang jauh lebih muda. Penyebabnya bukan hanya rokok, tetapi juga polusi udara, asap kendaraan, vape, kebiasaan begadang, kurang olahraga, hingga paparan debu di tempat kerja," jelas dr. Fitri saat di wawancarai oleh RRI PRO 2 Malang melalui sambungan telepon dalam Program Jaga Malam Info Kesehatan, Jumat (24/7/2026).
Menurutnya, paru-paru merupakan organ yang bekerja tanpa henti selama 24 jam setiap hari. Jika kerusakan sudah terjadi sejak usia muda, kualitas hidup seseorang di masa depan dapat menurun secara signifikan.
Dr. Fitri juga mengingatkan bahwa kerusakan paru tidak selalu langsung menimbulkan gejala yang berat. Keluhan ringan seperti batuk yang terus berulang, napas terasa lebih berat saat melakukan aktivitas ringan, mudah lelah, hingga dada terasa tidak nyaman sering kali diabaikan oleh anak muda.
"Batuk yang muncul terus meskipun tidak terlalu sering, sesak saat aktivitas ringan, atau napas mulai terasa berat itu sudah menjadi tanda yang harus diwaspadai. Jangan menunggu sampai gejalanya semakin parah baru memeriksakan diri," ujarnya.
Selain asap kendaraan bermotor, dr. Fitri menjelaskan masih banyak sumber paparan lain yang dapat merusak paru-paru tanpa disadari. Di antaranya adalah asap pembakaran sampah, debu di lingkungan kerja seperti pertambangan, hingga paparan bahan kimia dari industri maupun pengecatan apabila tidak menggunakan alat pelindung diri yang sesuai.
Ia juga menyoroti penggunaan vape yang masih banyak dianggap lebih aman dibandingkan rokok konvensional. Padahal, menurutnya, vape tetap berpotensi menyebabkan cedera paru atau E-cigarette or Vaping Associated Lung Injury (EVALI).
"Vape memang masih menjadi perdebatan sebagai pengganti rokok, tetapi kenyataannya tetap dapat menyebabkan cedera paru atau EVALI. Jadi bukan berarti aman untuk kesehatan paru-paru," tegasnya.
Untuk menjaga kesehatan paru, dr. Fitri menyarankan masyarakat mulai mengurangi bahkan menghentikan kebiasaan merokok secara bertahap, menggunakan masker ketika berada di lingkungan berpolusi, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, serta mencukupi waktu istirahat.
Ia juga menyarankan masyarakat memilih waktu yang tepat saat berolahraga di luar ruangan agar tidak justru menghirup polusi dalam jumlah besar, misalnya pada pagi hari ketika kualitas udara masih lebih baik.
Menutup perbincangan, dr. Fitri mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan paru sejak dini. Menurutnya, meskipun paparan lingkungan tidak bisa sepenuhnya dihindari, setiap orang tetap dapat mengurangi risikonya melalui perubahan gaya hidup yang lebih sehat.
"Kita memang tidak bisa mengubah seluruh kondisi lingkungan, tetapi kita bisa mengurangi paparannya. Gunakan masker, olahraga, dan segera periksa jika mulai muncul keluhan. Kesadaran sejak sekarang adalah kunci menjaga paru tetap sehat hingga usia lanjut," pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....