Dinkes Kota Batu Tingkatkan Kewaspadaan Dini Virus Nipah

  • 11 Feb 2026 15:02 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Dinas Kesehatan Kota Batu meningkatkan kewaspadaan dini terhadap potensi penyebaran virus Nipah, menyusul adanya surat edaran dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terkait imbauan kewaspadaan penyakit zoonosis tersebut.

Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Penanganan Bencana Dinkes Kota Batu, dr. Susana Indahwati, mengatakan surat edaran tersebut telah disampaikan Kementerian Kesehatan kepada bupati dan wali kota di seluruh Indonesia, kemudian diteruskan ke dinas kesehatan di tingkat kabupaten/kota.

“Untuk kota Batu, kami sudah menerima surat edaran tersebut dan langsung melakukan kewaspadaan dini terkait penyakit virus Nipah,” ujarnya dalam Dialog Malang Menyapa, Rabu (11/2/2026). 

Meski hingga saat ini belum ditemukan kasus virus Nipah di Indonesia, kewaspadaan tetap perlu dilakukan mengingat mobilitas masyarakat yang tinggi, termasuk keluar masuk wisatawan melalui pintu-pintu internasional. Virus Nipah sendiri pertama kali ditemukan di Malaysia, tepatnya di wilayah aliran Sungai Nipah. Sebagai tindak lanjut, Dinkes Kota Batu melakukan berbagai upaya, mulai dari edukasi kepada masyarakat mengenai ancaman virus Nipah, cara penularan, hingga gejala yang perlu diwaspadai. Sosialisasi pencegahan dilakukan melalui fasilitas pelayanan kesehatan, seperti puskesmas, serta penguatan sistem surveilans.

“Penguatan surveilans ini bertujuan untuk meningkatkan pengawasan terhadap gejala infeksi pernapasan dan gangguan neurologis di fasilitas pelayanan kesehatan,” jelas Susana. 

Ia menambahkan, virus Nipah tidak hanya menyerang saluran pernapasan, tetapi juga dapat menimbulkan komplikasi serius pada sistem saraf, seperti radang otak, yang merupakan kondisi kegawatdaruratan medis. 

Dinkes Kota Batu juga terus melakukan koordinasi lintas sektor dengan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur serta instansi terkait lainnya. Masyarakat diimbau untuk mengolah makanan dengan benar, terutama daging hewan ternak seperti babi, agar dimasak hingga matang sempurna untuk mematikan virus.

Selain itu, masyarakat diminta waspada jika mengalami gejala demam tinggi di atas 38° celcius disertai batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, muntah terus-menerus, atau pusing berat. “Jika muncul gejala tersebut, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Di Kota Batu, rumah sakit rujukan dengan fasilitas isolasi adalah RS Karsa Husada,” katanya.

Untuk memperkuat kapasitas puskesmas, petugas kesehatan dibekali pemahaman mengenai gejala awal virus Nipah serta faktor risiko, seperti riwayat perjalanan, kontak dengan hewan, maupun kontak dengan pasien dengan gejala serupa.

Terkait Kota Batu sebagai daerah wisata, dr. Susana menegaskan tidak ada perlakuan khusus bagi wisatawan mancanegara, selain penerapan protokol kesehatan. Proses skrining sudah dilakukan sejak wisatawan memasuki Indonesia melalui bandara atau pelabuhan oleh Balai Kekarantinaan Kesehatan (KKP). “Jika lolos skrining dan masuk ke Kota Batu, wisatawan tetap dianjurkan menjalankan protokol kesehatan seperti mencuci tangan, memakai masker di keramaian, dan menjaga jarak,” ujarnya.

Dalam menghadapi maraknya misinformasi, Dinkes Kota Batu mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada berita hoaks. Informasi resmi hanya diperoleh dari instansi berwenang seperti Kementerian Kesehatan, Dinkes setempat, dan fasilitas pelayanan kesehatan. “Informasi yang menyesatkan justru bisa menurunkan daya tahan tubuh karena menimbulkan kecemasan. Yang terpenting adalah menjaga kebersihan diri dan pola hidup bersih dan sehat,” tuturnya.

Dr. Susana juga mengingatkan masa inkubasi virus Nipah berkisar antara 3 hingga 14 hari. Oleh karena itu, riwayat perjalanan dan konsumsi makanan dalam rentang waktu tersebut perlu diperhatikan. Masyarakat diimbau mencuci buah dan sayur dengan bersih, mengupas buah sebelum dikonsumsi, serta menghindari buah yang sudah digigit hewan, terutama kelelawar.

“Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia. Walaupun belum ditemukan kasus di Indonesia, kewaspadaan dan pencegahan tetap harus dilakukan bersama,” pungkasnya. (Annisa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....