FISIP UNIRA Malang Cetak Lulusan Adaptif di tengah Disrupsi Teknologi
- 20 Agt 2026 21:45 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Malang - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang menggelar Yudisium Tahun 2026 dengan mengusung tema “Becoming Adaptive Graduate with Integrity and Humanitarian Impact”, Kamis 20 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut menjadi momentum pelepasan mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan akademik sekaligus penguatan pesan agar lulusan mampu beradaptasi menghadapi perubahan teknologi, dunia kerja, dan dinamika sosial yang berkembang semakin cepat.
Dekan FISIP UNIRA Malang, Husnul Hakim Sy, menegaskan lulusan perguruan tinggi saat ini dituntut memiliki kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan integritas dan kepedulian terhadap kemanusiaan.
“Kami ingin lulusan FISIP UNIRA Malang bukan hanya memiliki ijazah, tetapi memiliki kemampuan untuk membaca perubahan, beradaptasi terhadap perkembangan zaman, tetap memiliki integritas, dan mampu memberikan dampak kemanusiaan di tengah masyarakat,” ujar Husnul.
Menurutnya, perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence), transformasi digital, dan perubahan pola kerja menuntut lulusan untuk terus belajar sepanjang hayat. Karena itu, FISIP UNIRA membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, literasi teknologi, pemecahan masalah, serta kepekaan sosial.
“Teknologi boleh berubah, pekerjaan boleh berubah, bahkan profesi seseorang bisa berubah. Tetapi integritas, kemampuan berpikir, dan kepedulian terhadap manusia harus tetap menjadi fondasi,” lanjutnya.
Dalam kesempatan yang sama, anggota DPRD Jawa Timur sekaligus aktivis perlindungan perempuan dan anak, Hikmah Bafaqih, menyampaikan orasi ilmiah mengenai makna pendidikan tinggi di tengah perubahan dunia kerja.
Ia menilai keberhasilan seorang sarjana tidak semata-mata ditentukan oleh kesesuaian pekerjaan dengan jurusan yang ditempuh saat kuliah.
“Menjadi sarjana hari ini tidak harus bekerja sesuai dengan jurusan. Menjadi sarjana itu sesuatu yang lebih berharga karena selama menjalani proses perkuliahan, seseorang dibentuk memiliki pola pikir yang berbeda dengan mereka yang tidak menjalani proses tersebut,” ungkap Hikmah.

Menurut Hikmah, pendidikan tinggi tidak hanya membentuk keterampilan teknis, tetapi juga mengembangkan kemampuan analisis, pengambilan keputusan, dan penyelesaian masalah yang dapat diterapkan di berbagai bidang pekerjaan.
“Ketika seorang sarjana bekerja tidak sesuai dengan jurusannya, dia tetap memiliki pola pikir yang berbeda. Dia akan lebih terstruktur dalam berpikir dan lebih memiliki kemampuan problem solving ketika menghadapi persoalan,” jelasnya.
Ia mencontohkan, lulusan Psikologi yang memilih menjadi petani tetap membawa perspektif dan pendekatan yang berbeda dalam mengelola persoalan pertanian.
“Ketika sarjana Psikologi menjadi seorang petani, dia akan berbeda dalam menghadapi persoalan pertanian. Karena dia membawa cara berpikir, pengalaman belajar, kemampuan menganalisis, dan kemampuan menyelesaikan masalah yang diperoleh selama proses pendidikan,” katanya.
Tema yudisium tahun ini dinilai relevan dengan tantangan masa depan yang menuntut lulusan menjadi pembelajar sepanjang hayat. Adaptif bukan berarti kehilangan prinsip, melainkan kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan tanpa meninggalkan integritas dan nilai kemanusiaan.
FISIP UNIRA Malang yang menaungi Program Studi Ilmu Pemerintahan dan Psikologi berharap para lulusannya mampu berkontribusi di berbagai sektor, mulai pemerintahan, dunia usaha, organisasi masyarakat, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.
Melalui yudisium tersebut, UNIRA Malang menegaskan komitmennya mencetak generasi yang tidak hanya siap bersaing di dunia kerja, tetapi juga mampu menghadirkan solusi dan manfaat bagi masyarakat di tengah era disrupsi teknologi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....