PKM Universitas Yudharta Pasuruan Ajak Warga Desa Dayurejo Budidaya Maggot
- 14 Agt 2026 18:34 WIB
- Malang
RRI.CO.ID, Pasuruan - Maggot selain dikenal mampu mengurai limbah organik dengan cepat, membantu mengurangi sampah, serta memiliki nilai ekonomi karena dapat digunakan sebagai pakan ternak.
Manfaat inilah yang dibawa oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Yudharta Pasuruan untuk kemudian mengajak para petani kopi di Desa Dayurejo mengikuti pelatihan budidaya maggot sekaligus menjadi anggota koperasi CMPK.
Ketua Tim Pelaksana PKM Universitas Yudharta Pasuruan, Dr. Wenny Mamilianti, SP., MP mengatakan, dalam pelatihan ini para petani kopi diberi pengetahuan sekaligus cara memanfaatkan sampah organik rumah tangga dan limbah ternak sebagai bahan pakan maggot.
Termasuk memperkenalkan potensi Black Soldier Fly (BSF) atau lalat tentara hitam sebagai organisme yang mampu menguraikan berbagai jenis bahan organik. Sebab Maggot BSF dapat memanfaatkan sampah organik sebagai sumber pakan sehingga berpotensi membantu mengurangi volume sampah rumah tangga sekaligus menghasilkan biomassa maggot yang memiliki nilai guna.
"Konsep ini menekankan pemanfaatan kembali sumber daya dan limbah agar tidak langsung berakhir sebagai sampah, tetapi dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat dan nilai ekonomi," kata Wenny di sela-sela kesibukannya, Jumat (14/8/2026).
Dalam praktiknya, Tim Pelaksana PKM Universitas Yudharta Pasuruan yang dalam pelaksanaannya didukung penuh oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026, menurut Wenny, juga memberikan penjelasan mengenai tahapan budidaya maggot. Mulai dari pengenalan siklus hidup BSF, pemilihan dan pemilahan bahan organik, persiapan media, pemberian pakan, pemeliharaan, hingga proses pemanenan maggot.
"Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai bahan-bahan organik yang dapat dimanfaatkan serta pentingnya pengelolaan bahan pakan agar budidaya dapat berlangsung secara optimal," imbuhnya.
Lebih lanjut Wenny menegaskan bahwa bagi petani kopi, teknologi budidaya maggot memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari usaha pertanian yang lebih terpadu.
Contoh sederhana adalah limbah organik yang tersedia di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan sebagai input, sementara hasil budidaya maggot berpotensi menjadi sumber pakan alternatif untuk kegiatan peternakan atau perikanan.
Residu dari budidaya maggot atau kasgot juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan organik untuk mendukung kesuburan tanah setelah dikelola dengan tepat.
"Kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada pengurangan sampah, tetapi juga diarahkan untuk membangun pola pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien. Sampah organik dan limbah ternak yang sebelumnya dipandang sebagai masalah dapat diubah menjadi sumber daya yang memberikan manfaat bagi masyarakat," ungkapnya.
Ke depan, Wenny berharap kegiatan tersebut dapat menjadi langkah awal dalam membangun sistem pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat di Desa Dayurejo.
"Bisa jadi, budidaya maggot diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang terintegrasi dengan sektor pertanian, peternakan, dan pengelolaan lingkungan," terangnya.
Sementara itu, antusiasme petani kopi dan masyarakat Desa Dayurejo terlihat dari keterlibatan peserta selama proses pelatihan. Peserta tidak hanya mendapatkan materi secara teoritis, tetapi juga memperoleh pengalaman praktik sehingga diharapkan mampu menerapkan teknologi budidaya maggot secara mandiri di lingkungan masing-masing.
"Terima Kasih Tim PKM Universitas Yudharta Pasuruan yang telah membantu kami untuk belajar membudidaya maggot, dan hasilnya memang sangat luar biasa," tutur salah seorang petani kopi di Desa Dayurejo.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....