Mahasiswa UM Dorong Siswa Terapkan Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

  • 15 Apr 2026 15:55 WIB
  •  Malang
RRI.CO.ID, Malang - Mahasiswa Program Doktor (S3) Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang (UM) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di SMK Negeri 3 Malang sebagai upaya mendorong kesadaran dan praktik pengelolaan sampah berkelanjutan di lingkungan sekolah.

Program yang merupakan bagian dari mata kuliah Global Sustainability and Social Responsibility (GSSR) ini, mengusung tema pengelolaan sampah melalui metode Takakura dan Ecobrick. Kegiatan diikuti siswa kelas X jurusan kuliner, guru, koordinator Adiwiyata, serta staf sekolah.

Tidak hanya berfokus pada teori, kegiatan ini juga menekankan praktik langsung agar peserta memiliki pemahaman dan keterampilan dalam mengelola sampah secara mandiri.

Dosen pembimbing, Prof. Mimien Henie Irawati Al Muhdhar, M.S., menegaskan pentingnya pendidikan lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial.

“Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk kebiasaan dalam mengelola sampah secara berkelanjutan,” katanya, Rabu (15/4/2026).

Apresiasi juga disampaikan Wakil Kepala Sekolah SMKN 3 Malang, Ivalatul Latifah, S.Pd., M.M. Ia menilai kegiatan tersebut selaras dengan program sekolah berwawasan lingkungan.

“Kegiatan ini sangat mendukung program Adiwiyata yang kami jalankan,” katanya.

Dalam sesi materi, Muhammad Khalil, M.Pd., menjelaskan metode Takakura sebagai teknik pengolahan sampah organik menjadi kompos skala rumah tangga. Sementara Rahman Fadli, M.Pd., memaparkan konsep Ecobrick sebagai pemanfaatan sampah plastik menjadi produk bernilai guna.

Peserta kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mempraktikkan kedua metode tersebut. Pada metode Takakura, peserta menggunakan wadah yang dimodifikasi dengan sirkulasi udara, dilapisi kardus untuk menjaga kelembapan, serta ditambahkan sekam dan kompos sebagai bahan dasar. Proses fermentasi dipercepat dengan larutan EM4.

“Komposisi bahan harus diperhatikan. Kompos sebaiknya lebih dominan agar proses berjalan cepat dan tidak menimbulkan bau,” jelas Khalil.

Sementara pada praktik Ecobrick, peserta mengisi botol plastik dengan potongan sampah plastik yang telah dibersihkan dan dikeringkan hingga padat.

“Kepadatan sangat menentukan kualitas Ecobrick. Botol harus terisi penuh tanpa rongga udara,” tegas Rahman.

Kegiatan ini juga menjadi implementasi tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya pada aspek pendidikan berkualitas, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta aksi terhadap perubahan iklim.

Sebagai evaluasi, peserta mengikuti post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman setelah kegiatan berlangsung. Hasilnya diharapkan mampu mendorong siswa untuk menerapkan pengelolaan sampah dalam kehidupan sehari-hari.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....