Literasi Digital Bangun Karakter, Bukan Sekadar Bermedia Sosial

  • 21 Jul 2026 16:55 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Literasi digital tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menggunakan media sosial atau teknologi. Lebih dari itu, literasi digital menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter masyarakat yang terbuka, kritis, berempati, sekaligus bertanggung jawab dalam kehidupan digital.

Hal tersebut disampaikan Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sekaligus penulis buku Menyalakan Lentera Negeri, Prof. Dr. H. Triyo Supriyatno, S.Pd., M.Ag, saat menjadi narasumber Program Prioritas Nasional Literasi Digital RRI Malang bertema Etika Berkomentar dan Empati.

Menurut Prof. Triyo, masyarakat saat ini mulai menunjukkan perkembangan dalam menyikapi media sosial. Ia melihat setidaknya terdapat dua kelompok besar pengguna media digital. Kelompok pertama merupakan masyarakat yang sudah memiliki kemampuan berpikir kritis sehingga mampu bersikap adaptif terhadap berbagai informasi. Sementara kelompok kedua memilih membatasi diri dari media sosial sebagai bentuk menjaga kesehatan spiritual.

"Di masyarakat kita mulai muncul dua sikap. Ada yang menggunakan intelektualitasnya untuk bersikap kritis terhadap media sosial sehingga mampu beradaptasi. Ada pula yang memilih menjauh demi menjaga spiritualitasnya," ujarnya, Selasa (21/7/2026).

Ia menambahkan, dari kedua kelompok tersebut akan muncul kelompok lain, yakni mereka yang memilih bereaksi terhadap berbagai persoalan di ruang digital. Namun, reaksi tersebut harus tetap berada dalam koridor norma, etika, dan hukum agar tidak berubah menjadi tindakan destruktif.

Menurutnya, setiap komunikasi di ruang digital seharusnya mengikuti prinsip tabayun atau melakukan klarifikasi terlebih dahulu sebelum menyampaikan pendapat. Dalam perspektif Al-Qur'an, seseorang juga diajarkan untuk menyampaikan kebenaran sekaligus menjaga kesabaran agar kritik tidak berubah menjadi serangan personal.

"Kita boleh bereaksi, tetapi reaksinya harus benar. Menyampaikan yang benar sekaligus disertai kesabaran supaya tidak berubah menjadi tindakan yang merusak," jelasnya.

Prof. Triyo mengingatkan bahwa identitas seseorang pada era digital sebenarnya tidak pernah benar-benar tersembunyi. Jejak digital dapat dilacak sehingga setiap komentar memiliki konsekuensi moral maupun hukum.

Karena itu, ia mengajak masyarakat membangun empati ketika menemukan kesalahan orang lain di media sosial. Menurutnya, seseorang yang melakukan kesalahan bukan berarti selamanya menjadi pribadi buruk.

"Empati berarti kita masih memberi ruang seseorang untuk menjadi lebih baik. Jangan langsung menghakimi. Kita harus mengomunikasikan nilai kemanusiaan itu juga di dunia digital," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Triyo juga memperkenalkan buku Menyalakan Lentera Negeri yang mengangkat tiga pilar utama kehidupan digital, yakni spiritualitas, intelektualitas, dan kemanusiaan.

Ketiga aspek tersebut, menurutnya, menjadi fondasi agar masyarakat tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga bijak dalam menggunakan teknologi.

Sebagai penutup, Prof. Triyo menegaskan bahwa literasi digital akan melahirkan masyarakat yang memiliki cara pandang terbuka terhadap ilmu pengetahuan, dunia, dan jejaring sosial.

"Literasi digital akan membangun open mind, membuka wawasan dunia, dan memperluas jejaring kemanusiaan. Kalau tiga hal itu tumbuh, bangsa ini akan semakin kuat," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....