Pakar Pendidikan: Empati Kunci Hentikan Hujatan di Media Sosial

  • 21 Jul 2026 15:17 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang - Budaya saling menghujat di media sosial dinilai dapat dikurangi apabila masyarakat mulai mengedepankan empati sebelum menulis komentar.

Hal tersebut mengemuka dalam Program Literasi Digital RRI Malang yang menghadirkan Wakil Rektor III UIN Malang Prof. Dr. H. Triyo Supriyatno, Guru SMKN 1 Malang Musa Abadi, dan Guru SMAN 9 Malang Panjilmo Putro.

Ketiganya sepakat bahwa ruang digital seharusnya menjadi ruang berbagi pengetahuan, bukan arena saling menyerang.

Prof. Triyo menjelaskan, seseorang perlu melihat setiap persoalan melalui tiga pendekatan, yakni spiritualitas, intelektualitas, dan kemanusiaan.

Menurutnya, orang yang melakukan kesalahan tetap memiliki peluang untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

"Empati membuat kita tidak mudah menghakimi. Kita harus melihat bahwa seseorang masih bisa diarahkan menjadi lebih baik," ujarnya, Selasa (21/7/2026).

Sementara itu, Musa Abadi menambahkan bahwa ketika menghadapi perdebatan di media sosial, masyarakat sebaiknya mempertimbangkan apakah persoalan tersebut benar-benar penting bagi kehidupannya.

"Kalau tidak terlalu berpengaruh bagi hidup kita, lebih baik tidak perlu memperpanjang debat kusir. Tetaplah berkomentar berdasarkan fakta," katanya.

Panjilmo Putra menilai pendidikan karakter harus dimulai dari lingkungan keluarga.

Orang tua yang terbiasa menggunakan bahasa santun akan menjadi contoh bagi anak dalam berkomunikasi, termasuk ketika menggunakan media sosial.

"Kalau orang tua berbicara dengan baik di rumah, anak akan terbiasa menulis komentar yang baik pula. Keteladanan adalah kuncinya," jelasnya.

Dalam sesi dialog interaktif, para narasumber juga menanggapi berbagai pertanyaan pendengar mengenai cyberbullying, budaya membaca, hingga cara menyampaikan kritik secara santun.

Mereka menyarankan masyarakat selalu melakukan klarifikasi sebelum mempercayai informasi, menghindari komentar yang menyerang pribadi, serta membaca informasi secara utuh agar tidak mudah terprovokasi.

Ketiganya berharap literasi digital di Indonesia tidak hanya meningkatkan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga membangun masyarakat yang lebih beretika, kritis, dan penuh empati dalam setiap interaksi di ruang digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....