Dua Mahasiswa STIE Malangkuçeçwara Segera Berangkat Internship ke Jepang

  • 13 Jun 2026 02:45 WIB
  •  Malang

RRI.CO.ID, Malang – Dua mahasiswa STIE Malangkuçeçwara (ABM) Malang bersiap menjalani program internship di Jepang setelah melewati rangkaian seleksi akademik, kemampuan bahasa, hingga wawancara dengan perusahaan tujuan.

Kedua mahasiswa tersebut adalah Roby Purbaarditia dan M. Ismail. Keduanya akan mengikuti program magang internasional yang menjadi salah satu program pengembangan mahasiswa di kampus tersebut.

Bagi Roby Purbaarditia, kesempatan berangkat ke Jepang menjadi mimpi yang sudah ia simpan sejak duduk di bangku SMA.

“Ke Jepang itu sebenarnya mimpi saya dari SMA. Waktu cari kampus saya lihat ABM punya program internasional khususnya ke Jepang, jadi itu salah satu alasan saya memilih kuliah di sini,” ujarnya, Kamis 11 Juni 2026.

Namun, Roby mengaku sempat ragu pada awal kuliah karena menganggap biaya mengikuti program luar negeri cukup besar.

“Awalnya saya pikir biayanya mahal. Tapi setelah saya cari tahu lebih dalam ternyata tidak sebesar yang saya bayangkan. Apalagi kalau internship di Jepang itu ada penghasilan juga, jadi cukup membantu,” katanya.

Menurut Roby, proses seleksi dilakukan secara bertahap mulai dari penyaringan internal kampus hingga wawancara dengan perusahaan di Jepang.

Ia menilai kampus memberikan dukungan cukup lengkap mulai dari pelatihan bahasa, persiapan wawancara hingga pembekalan sebelum keberangkatan.

“Dari kampus fasilitasnya lengkap. Ada kursus bahasa, latihan wawancara, sampai persiapan sebelum berangkat,” ujarnya.

Selain mengejar mimpi, Roby mengaku ingin memperoleh pengalaman baru dan melihat kehidupan di luar Indonesia.

“Saya memang dari kecil ingin kuliah atau merasakan hidup di luar negeri. Saya ingin dapat sudut pandang baru, budaya baru, dan pengalaman yang lebih luas,” katanya.

Sementara itu, M. Ismail mengaku awalnya tidak pernah membayangkan bisa mengikuti program ke luar negeri. Ketertarikannya muncul setelah mengenal program student exchange dan magang internasional saat masa pengenalan kampus.

“Awalnya saya tidak kepikiran ke luar negeri. Tapi waktu dikenalkan program ini saya langsung tertarik karena menurut saya ini bisa membuka pintu karier ke depannya,” kata Ismail.

Ia mengatakan proses seleksi cukup menantang karena mempertimbangkan prestasi akademik dan kemampuan dasar bahasa Jepang.

“Seleksi awal dilihat dari IPK, lalu ada tes dasar bahasa Jepang seperti hiragana dan katakana. Waktu itu saya bahkan belum tahu apa itu hiragana dan katakana,” ujarnya.

Untuk mempersiapkan diri, Ismail mengaku belajar intensif menjelang seleksi.

“Saya belajar maksimal satu minggu sebelum tes. Dari sekitar 30 peserta, yang lolos hanya sekitar 10 orang dan saya termasuk yang lolos,” katanya.

Setelah dinyatakan lolos, Ismail mengikuti kelas bahasa Jepang secara intensif selama hampir satu tahun hingga menjelang keberangkatan.

Keduanya berharap pengalaman internship di Jepang dapat menjadi bekal untuk meningkatkan kemampuan profesional, memperluas wawasan internasional, serta membuka peluang karier setelah lulus.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....