Benahi Kasus BUMN, Peneliti STIE Malangkucecwara Tawarkans Konsep 'SCAL'

  • 20 Jul 2026 20:13 WIB
  •  Malang

RRI.CO. ID, Malang - Fenomena riak tata kelola di tubuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang kerap menyeret figur eksekutif bertalenta kembali memicu pertanyaan mendasar di kalangan akademisi. Mengapa pemimpin yang dikenal jujur, berintegritas, dan kompeten masih sering terjebak dalam kompleksitas masalah hukum maupun operasional saat memimpin entitas plat merah.

Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti dari STIE Malangkucecwara merumuskan konsep kepemimpinan anyar bertajuk Strategic Contextual Authentic Leadership (SCAL). Riset bertajuk SCAL serta Pengaruhnya Terhadap Perceived Organizational Performance ini berhasil meraih pendanaan nasional dalam skema Penelitian Fundamental Kemdiktisaintek 2026.

Anggota Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) STIE Malangkucecwara, Dr. Hanif Mauludin, M.Si., menjelaskan bahwa gagasan ini berangkat dari evaluasi atas tren kepemimpinan BUMN dalam dua dekade terakhir. Meskipun konsep Authentic Leadership sangat populer, penerapannya pada BUMN memerlukan pendekatan yang jauh lebih adaptif.

"Kenapa orang-orang besar itu ketika dia leading sebuah corporate atau organisasi kok ada problem ini? Sementara kita tahu mereka itu orang-orang punya integritas, jujur, dan kompeten. Ternyata ada aspek lain yang belum menjadi perhatian, yaitu terkait strategi kontekstualnya," ujar Hanif saat memberikan keterangan terkait riset tersebut, Senin 20 Juli 2026.

Hanif mengatakan, posisi pimpinan BUMN sangat unik dan syarat dinamika. Di satu sisi, BUMN lahir dari rahim pemerintah (government) yang membawa misi pelayanan publik serta regulasi ketat. Di sisi lain, dalam praktik operasional harian, BUMN dituntut bertindak profesional dan menerapkan prinsip bisnis murni guna meraup keuntungan.

Dinamika tersebut kian kompleks lantaran pengambil keputusan di BUMN dihadapkan pada tatanan pemangku kepentingan (stakeholders) yang amat luas, mulai dari jajaran kementerian, legislatif, hingga pengaruh politik eksternal. Hal ini membedakan BUMN secara mendasar dari korporasi swasta murni.

Guna menutup celah tersebut, konsep SCAL menambahkan empat dimensi baru, mulai dari contextual intelligence (kecerdasan kontekstual) hingga perumusan metode adaptasi strategis.

"Memang pada akhirnya tidak cukup hanya secara otentik saja. Yang namanya integritas, jujur, berakhlak apa itu enggak cukup sebagai modal dasar. Tapi kemampuan menterjemahkan lingkungan dan mendefinisikan peran dari setiap stakeholder menjadi sangat penting," tegas Hanif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....